Family Meeting Malang

family

keluarga besar

Keluarga, familie, family. Keluarga yang saya sering kunjungi ada di Jawa dan Bali. Malang adalah sebuah kota mungil di Jawa Timur yang menjadi kota kelahiran ibu saya tercinta. Sedangkan Klungkung, Bali adalah kota dimana ayah saya dilahirkan dan dibesarkan. Sedangkan saya dan kakak saya lahir di Mataram, kota kecil berhawa panas dekat pulau Bali. Alhasil, keluarga yang sering saya kunjungi ya cuma keluarga Jawa dan Bali. Disamping memiliki dua budaya,keluarga saya terdiri dari dua agama bahkan lebih. Baru-baru ini, sekitar bulan September silam, keluarga Belanda yang hanya saya dengar melalui bibir ibu selama ini akhirnya datang berkunjung. Mereka adalah Opa Cornelis Geus, Om Edward Geus dan Claartje, sepupu Naomi dan Gerben. Opa mengaku bahwa dia sudah sangat lama tidak menginjakkan kaki di Indonesia. Sedangkan Oom Edward mengaku kalau baru-baru ini, sekitar dua tahun silam dia mengunjungi Bali. Untuk Naomi dan Gerben, mereka baru pertama kali menginjak kaki di bumi Indonesia.Selama kunjungannya di Indonesia. Mereka mengunjungi berbagai tempat; Bali, Jogjakarta dan tentunya Malang. Opa sangat bahagia ketika bertemu kami, terlihat wajahnya bersemu merah dan seringaian yang lebar saat memeluk kami satu per satu. Hari itu di Rumah Sakit Saiful Anwar, Opa dan rombongan datang dengan berjalan kaki, maklum mereka menginap di hotel Regent Park samping RS. Opa yang berumur 86tahun ini masih terlihat sehat walau berjalan dibantu oleh sebatang tongkat. Opa yang keturunan Indonesia ini tak begitu ‘bule’ sedangkan om Edward sama sekali tak tampak seperti bule kebanyakan. Rambut hitamnyalah yang menjadikannya seperti orang asli Indonesia, kulitnya pun berwarna coklat lembut. Sedangkan Gerben dan Clartje lah yang memiliki wajah asli bule. Sepupu Naomi juga terlihat seperti orang Indonesia, dan Belanda.

Image

 

 

Image

dinner di rumah kami

Setelah pertemuan kami di rumah sakit, pertemuan selanjutnya di rumah saya yang terletak tak jauh dari rumah sakit. Ibu memasak banyak makanan, terutama makanan kesukaan Opa yaitu sate ayam. Mereka membawakan kami delapan buah paket oleh-oleh dari Holland untuk ibu dan saudara-saudaranya. Maklum, Opa adalah saudara kakek saya dari ibu. Isi paket itu adalah serbet bermotif merah-putih-biru, handuk bermotif kincir angin dan wanita Belanda, wafel bakar Bakker Joop yang rasanya masyaAllah uenaaak banget, tisu bergambar Belanda. Jatah paman saya dikasi ke saya jadi si fany dapat double 😛

Malam itu kami banyak bercerita, saya jadi akrab dengan sepupu saya yang cantik itu. Senang rasanya.

Image

Hari kedua saya habiskan di Lawang untuk mengantar Opa melihat-lihat kampung halamannya dulu. Saya banyak mendapat kisah tentang jaman penjajahan Belanda terutama dari Belanda’s perspective. Opa hampir menangis setiap menceritakan keluarganya dulu, “Sangat bahagia melihat sawah” gumamnya. Opa menunjukkan saya foto almarhumah istrinya, dia menangis seketika itu juga karena terharu. Sedangkan Edward dan para pemuda/i lainnya mengunjungi Surabaya untuk mengunjungi makam Opa buyut saya yang bernama Geus. Makamnya terletak di kembang kuning, makam pahlawan-pahlawan Belanda.

Hari ketiga, saya menemani Opa lagi, namun kali ini ke Singosari. Kami mengunjungi beberapa keluarga di sana. Sepupu Malang dan rumah nenek, karena nenek saya sudah dipindahkan ke rumah setelah seminggu lebih terbaring di rumah sakit. Selama perjalanan Opa juga bercerita tentang keluarganya disana dan betapa dia ingin sekali mengunjungi Indonesia. Kami juga mengunjungi rumah sepupu yang terletak di (lupa) kota Malang, bukan Singosari. Opa mengatakan kalau kunjungan kesana sangat melelahkannya, dia kurang merasa enjoy disana. Begitu menurut penuturannya.

Image

dutch vs english vs bahasa

Image

dinner oen

Daaaaaaan, puncak pertemuan keluarga Malang-Belanda ini terjadi di Toko Oen yang terletak depan Sarinah, Malang. Opa dan Edward telah membooking ruang khusus untuk kami. Acara itu dihadiri seluruh keluarga, ada sih beberapa yang berhalangan hadir. Saya semakin akrab dengan Naomi, duduk bersebelahan dengannya banyak bercerita tentang pengalaman kami. Dia bekerja sebagai pekerja sosial di Belanda sana. Pekerjaannya sangat berat tapi gajinyapun berat di kantong alias banyak. Kami banyak berfoto mengucap syukur atas pertemuan ini. Makanan yang disajikan saat itu makanan khas Indonesia seperti sate ayam, cap jay, koloke ayam, cah kangkung. Nikmat ditutup dengan dessert ice cream coklat buat aku dan Naomi.

Karena terlalu lelah, esok harinya kami tak saling bertemu. Tapi malam terakhir di Malang, Edward mengunjungi rumah saya lagi. Dia sempat nyasar tapi akhirnya berhasil saya temukan. Istilahnya mereka pamitan, tapi dia tak tahu rencana ibu saya.

Image

farewell

 

 

 

 

Besoknya, kami; bapak, ibu, kakak dan saya mengejutkan mereka dengan datang ke hotel untuk mengucap farewell. Sangat sedih saat itu, kami membawakan jajanan kesukaan mereka yaitu lemper dan risoles. Kami sempat berbincang sebentar di lobi hotel sebelum petugas travel datang menjemput mereka. Semua menangis saat mengucap farewell termasuk om Edward dan tante Claartje, Naomi dan ibu. Opa berjalan lebih cepat dari mereka, saya tahu dia takut menangis di depan kami. Karena setelah dia masuk ke dalam mobil, dia langsung menutup matanya dengan kedua tangan. Moment itu sangat mengaharukan sekaligus membahagiakan karena akhirnya saya melihat mereka secara langsung bukan mendengar cerita-cerita mereka lagi. Kini saya bisa menceritakan kisah yang selama ini ibu ceritakan.

 

*Foto-foto diambil dari dokumen pribadri Edward Geus dan Gerben Wajen di www.mijnalbum.nl

 

 

Thanks for reading,

 

FR

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s