GWA 1 dan 2

Image

First of all,

Postingan ini dibuat untuk ‘berbagi’ dengan Anda-Anda tentang perjalanan audisi kepenulisan saya di salah satu penerbit. Siapa tahu berguna untuk mendiskripsikan certain things.

Semester tiga dimulai, audisi menulis pun dimulai. Tepatnya di minggu pertama perkuliahan, di hari selasa. Saya mengikuti Gradien Writer Audition di penerbit Gradien. Dan sekarang sudah memasuki minggu keduabelas alias sudah break, nggak lagi diberikan tugas mingguan.

Di blog ini ada tugas pertama saya ‘Narasikan “Senja di Pantai”, disimpan dalam file Word berjudul Senja’ dan Deskripsikan “[Nama] Sedang Jatuh Cinta” {nama ini bisa diisi oleh nama siapa saja dan jenis kelamin apa pun}, disimpan dalam file Word berjudul Cinta.

Senja sudah saya tulis di postingan sebelumnya sedangkan cinta akan saya posting right now,

Mia Sedang Jatuh Cinta

Aku selalu senang memperhatikan Mia, sahabatku ketika ia sedang jatuh cinta. Terutama, saat ia bertemu dengan sang pujaan hatinya yang bernama Leo. Aku memperhatikan kulit wajahnya yang semula putih pucat berubah merona merah muda, semburat merah itu mewarnai pipi tembam Mia yang pucat, selalu menandakan kalau dia sedang bahagia atau sedang mengingat sebuah momen bahagia. Tatapan kosong yang tergenang di cahaya matanya yang selalu ia perlihatkan di setiap waktu berubah menjadi tatapan bahagia, bola mata yang berwarna coklat itu memang menawan dengan bingkai kelopak halus dan lentikan bulu mata tebal. Sering kali bola mata itu tidak menyiratkan ekspresi apapun, kecuali saat ia menatap sang pujaan hati. Cara Mia menatap Leo dari balik bulu matanya, tatapan Mia saat beradu dengan tatapan teduh di mata Leo; bola mata gadis bertubuh mungil itu terlihat cerah, memancarkan secercah cahaya yang memantul indah, bola mata coklat muda Mia menggelap menjadi coklat kehitaman, pupil matanya membesar menandakan ketertarikannya terhadap Leo, gairah murni yang begitu tulus menyiratkan betapa Mia memuja Leo melalui tatapan gadis itu jika ia tidak sanggup untuk berkata-kata. Kedua ujung bibir mungil Mia yang berwarna jingga kemerahan tertarik keatas, membentuk sebuah senyuman yang merekah dan memperlihatkan barisan giginya yang putih, menyiratkan betapa Mia ingin sekali agar Leo tetap berada di sampingnya. Selain memamerkan senyumnya yang manis, Mia selalu menggigit bibir bawahnya untuk meredam rasa cemas.

Aku tahu seberapapun Mia menyukai Leo, ia tidak akan bisa menatap Leo tepat ke mata pria itu, Mia terlalu pemalu. Detak jantungnya bergemuruh kencang tak beraturan mengirimkan perasaan malu yang menyebar diseluruh nadinya, seakan secarik kertas yang digulung sembarangan dan dilempar ke air yang berbuih, perut Mia terasa begitu tegang. Getaran asing menggelitik perutnya yang ramping sehingga perut itu terasa mulas, mengirim sensasi panas dingin yang mengganggu jiwa. Kesepuluh jemari kurusnya berubah dingin dan bergetar, terkadang jari jemarinya saling meremas. Ketegangan tersirat jelas disetiap gerak tubuhnya, diluar kesadaraan, ia menyisir rambut ikalnya yang sudah tampak rapi  dengan jemari. Kalimat yang terlontar dari bibirnya yang memucat pun semakin tidak beraturan, suaranya yang tenang berubah gemetar, menggiring irama kecemasan yang ia coba sembunyikan. Seakan Mia lupa cara bernafas, napasnya melampan, dia hanya menariknya sesekali dan jarang membuang napas. Cara itu adalah cara yang terbaik untuk Mia agar ia tetap bisa terlihat tenang dihadapan Leo. Mia sangat menikmati kehadiran Leo, namun gadis berambut hitam sebahu ini nyaris tidak bisa berdiri kokoh untuk menatap sosok tegap Leo, tak bisa dipungkiri lagi, tulang Mia berubah lembek seperti agar-agar yang mencair ketika berhadapan dengan Leo, sekujur kakinya terasa lemas tak sanggup untuk berdiri, tak sanggup untuk berlari dari Leo, tapi ia juga tidak bisa berpaling dari wajah menawan pria yang telah merenggut hatinya.

Aku tahu, di dalam pikiran Mia hanya ada Leo terbukti ketika hanya Leo-lah yang selalu dibicarakannya, hanya Leo yang terbayang disetiap lamunannya dan hanya Leo yang selalu ada dalam setiap hembusan napas Mia.

Saya pakai nama Mia dan Leo, sebenarnya Leo adalah nama karakter kesukaan saya, dia akan menjadi karakter di calon novel saya (amin) dan Mia, yah, randomly saja.

Let’s jump up to GWA 02

Begini perintahnya:

1. Tulislah sebuah kisah 450-500 kata yang menceritakan adegan di bawah ini:
Kamu bergegas menyusuri lorong menuju ruang gawat darurat. Masih tidak percaya, hal seburuk ini bisa terjadi. Rasanya baru saja kemarin, kamu dan sahabatmu duduk di sebuah kafe, berbincang-bincang sambil mendengarkan lagu kesukaan kalian – lagu yang telah mewarnai persahabatan kalian selama bertahun-tahun. Kini lagu yang sama terdengar sayup-sayup, mengiringi langkahmu saat menuju ruang gawat darurat.
 
2. Tuliskan sebuah kisah 450-600 kata yang menceritakan reaksimu terhadap situasi di bawah ini:
Pada suatu pagi, seseorang mengetuk pintu rumahmu. Setengah mengantuk, kamu berjuang bangun untuk membukakan pintu. Di hadapanmu, berdirilah pria/wanita yang selama ini menjadi bagian dari mimpi-mimpimu. Ia tersenyum dan bertanya, apakah kamu bersedia menemaninya sarapan. Apa reaksimu?
Yah, saya nggak kesulitan (Alhamdulillah) dalam mengerjakan tugas kedua ini. Terutama yang nomor dua, sama sekali nggak kesulitan 🙂
ini dia hasil mengerjakan GWA02 nomor 1:

Danang dan aku seudah berteman selama 13 tahun, sejak kami duduk di bangku SMA, kami tidak pernah sekali pun melewatkan hari tanpa saling berbagi di kafe Lolita. Kami berbincang sambil mendengarkanStawberry Fields Forever yang dinyanyikan band idola kami, The Beatles.  Kafe ini memang selalu memutar lagu-lagu dari band legendaris Inggris tersebut.

Sehabis pulang kuliah, kami selalu mampir setiap pukul empat sore untuk meminum secangkir kopi hangat dan selusin donat. Danang sangat menyukai donat dengan toping jeruk, napsu makannya selalu banyak apalagi setelah ia berolahraga. Tetapi, semenjak kami duduk di semester dua,  Danang sering mengeluh kalau badannya terasa sangat mudah lelah, dia pun jarang berolahraga lagi, tubuhnya yang atletis pun berubah, Danang tampak lebih kurus.

Dua minggu kemudian, ketika aku sedang menunggunya di kafe, aku mendapat telepon kalau dia tidak bisa datang karena sedang pergi berobat ke pengobatan tradisional di sebuah desa di luar Malang. Sekitar dua hari setelah teleponnya, Danang kembali dan dia tampak lebih sehat, wajahnya kembali cerah, pipinya yang pucat sudah merona kembali. Aku sangat lega melihat keadaan Danang seperti ini, hatiku ikut merona bahagia. Danang bercerita kalau dia hanya mengalami sedikit nyeri di bagian dada dan sudah diberi obat herbal, dia berhasil meyakinkanku kalau dia baik-baik saja.

Selama satu bulan, hari-hari kami berjalan normal seperti biasa. Sampai, saat aku sedang berada di kelas untuk kuliah, aku mendapat telepon dari Nyonya Lisa, Ibu Danang. Dia mengatakan kalau Danang sedang berada di UGD RS. Saiful Anwar, tanpa berpikir lagi, aku langsung pergi menyusul Danang-ku. Telingaku terasa terbakar oleh kabar barusan. Bukannya Danang baik-baik saja? Aku sangat bingung, otakku seakan terbelah menjadi ribuan bagian, aku tidak bisa berpikir lagi, hanya bertindak. Aku hanya ingin melihat Danang, menggenggam tangannya sekarang juga. Samar terdengar lagu kesayangan kami, StrawberryFieldsForever, lagu itu tidak bisa berhenti terngiang di telingaku, otakku pun tidak bisa berhenti menggambarkan bayangan wajah Danang.

Aku menemukan Lisa terduduk sendu di ruang tunggu UGD, tidak ada siapapun yang menemaninya, karena Dananglah satu-satunya yang ia miliki. Dia menyandarkan kepalanya yang berat di pundakku, aku mencoba menenangkannya dengan membelai pundak rapuhnya, Lisa yang malang berbisik parau di telingaku “ Danang menderita kanker paru-paru stadium 4” katanya. Bagai bola api panas yang menghantam hatiku dengan hujaman krikilnya yang membara, aku sangat terkejut. Tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar, Danang dalam keadaan bahaya dan tidak berdaya.

Betapa mengerikannya semua ini untuk Danang-ku terkasih, setelah dokter memberitahukan penyakit Danang yang sudah tidak bisa diobati, Danang pun mendapatkan perawatan singkat di rumah sakit. Sambil terbaring lemah, dia mencium kening Ibunya dan mencium lembut tanganku, mata indah itu kemudian terpejam untuk selamanya, meninggalkan wajah pucat sendu yang sangat aku puja, meninggalkan kenangan kami yang sudah terjalin lama.

Masih terbayang senyumnya, masih terbayang renyah tawanya, sorot dalam matanya, aroma maskulin tubuhnya dan ciuman singkat bibirnya yang hangat di tanganku, masih teringat setiap detik kenangan bersamanya, walau di depanku saat ini tidak lagi ada Danang, aku selalu mengingat dan mengenangnya, disini, di setiap bait lagu ini, di kafe Lolita, selamat jalan, temanku, sahabatku terkasih, Danang-ku tercinta.

yak sekian, yang kedua terlalu privasi jadi nggak bisa dipublikasikan.

GROET,

Fany.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s