Lord Spencer

Lord    Direction: Seorang pria paruh baya sedang berjalan lamat-lamat. Ia baru saja menguburkan anak laki-lakinya. Buatlah cerita pendekmengenai dirinya tanpa menggunakan kata (kubur, kremasi, sakit, meninggal, kecelakaan, kehilangan, mati, tewas, nama-nama penyakit, kuburan, dan hal-hal yang mampu menunjukkan bahwa ia baru saja menguburkan anak laki-lakinya). Namun, pembaca harus menyadari bahwa pria tersebut baru saja kehilangan anak laki-lakinya.

(Ini adalah tugas Gradien Writer Audition saya yang keempat. Sejujurnya, waktu baca direction saya mikir kalau tugas ini cukup rumit, tingkat kerumitan disini terletak di kata kunci yang nggak boleh dipakai. Selama dua hari memutar otak, saya memutuskan untuk membuat sebuah cerpen bergenre historical fiction dan saya beri judul Lord Spencer).Happy reading.

Groet,

FanyRenjana.

Dedaunan kering berwarna kuning gelap menghiasi seluruh jalanan kota London di musim gugur penghujung tahun 1823, angin berhembus begitu dingin menusuk rongga kulit sampai ke tulang, langit kota London gelap dengan rintikan air hujan di sepanjang kota. Jalanan kota London terlihat ramai dengan para lady dan saudagar yang baru pulang dari menonton pertunjukan teater, bisa kita lihat London begitu dipenuhi oleh kereta-kereta kuda mereka yang mengkilat dan beberapa lady terhormat memamerkan gaun-gaun indahnya di sepanjang jalan.

Para gadis yang rambutnya digulung dan dihiasi pita berbagai warna ini begitu menawan berdiri dengan badan tegak disamping prianya masing-masing. Para pria begitu rapi dengan balutan jas hitam dan celana selutut, stoking dan dilengkapi sepatu mahal. Pria yang bisa ditebak adalah pria dari golongan bangsawan itu begitu kontras dengan pemandangan seorang pria paruh baya yang berjalan tertatih, sebenarnya dia adalah seorang Lord yang kaya di Hartfileld, pemilik mansion megah di Yorkshire, beliau sedang berkunjung di London. Menyelesaikan sebuah urusan yang membuat dirinya begitu kalut.

Pria berumuran pertengahan lima putuh tahun ini terlihat begitu lusuh, kemeja putihnya dikotori dengan bekas lumpur yang melekat mengotori celana selututnya, sepatu but sepanjang betisnya pun dikotori lumpur yang begitu tebal. Kulit pucatnya seputih pualam, mata birunya memancarkan sorot kegelapan yang mendalam. Sungguh kacau penampilan pria terhormat ini, rambutnya panjang menutupi telinga, jenggot kacau semakin menebal dipipi Lord yang sedang putus asa ini. Di jemari kanannya, pria itu jelas sekali sedang menggenggam sejumput bunga berwarna putih.

Dengan penampilan yang begitu kacau, pria itu berjalan tertatih dari arah bukit tempat matahari terbenam, bukit itu lumayan jauh. Namun Lord Spencer Graville, nama pria paruh baya ini tetap bersikeras berjalan kaki menuju sebuah tempat suci dibalik bukit. Pria itu mengikat kuda dan Dorri, anjing yang berukuran besar dan berbulu menyerupai beruang kutub disebuah pohon berukuran raksasa dijalan tidak jauh dari bukit.

Sekembalinya dari bukit misterius itu, pria dengan penampilan yang begitu kacau ini kembali menunggangi kuda hitamnya, dirinya terlihat begitu rapuh diatas pelana, sedangkan anjing hitam yang menggonggong sebagai penunjuk arah berlarian kecil mendahului si kuda jantan. Lord Spencer Graville ini terbatuk kencang, tangan kanannya menggenggam erat dadanya yang terasa sesak, napasnya melamban, dia seolah-olah mengalami kesulitan bernapas. Namun, dia akan berusaha bertahan untuk menuju sebuah rumah tidak jauh dari bukit itu, rumah seseorang yang amat dia rindukan.

Setelah mempuh jarak sepanjang tiga kilometer, Lord Spencer sampai di sebuah rumah milik keluarga Tuan Smith. Sejauh mata memandang, rumah itu sangat sederhana, empat kali lipat lebih kecil dari rumah miliknya, halaman rumah itupun tidak begitu luas. Cahaya lilin menerangi sebuah ruangan di rumah itu, ruang yang merupakan perpustakaan milik keluarga Smith.

Si pemilik rumah, pelaut sederhana yang bernama Morgan Smith menikah dengan seorang gadis bangsawan bertahun-tahun silam, gadis cantik dengan rambut pirang ikal ini bernama Lady Sylvia Smith, adik kandung dari Lord Spencer. Begitu memilukan nasib Lady Sylvia yang harus ditinggal pergi oleh suaminya musim panas dua tahun yang lalu karena terserang kanker rahang. Morgan meninggalkan Sylvia dengan dua orang anak dan sebuah rumah sederhana, keluarga yang malang itu harus bisa mencukupi segala kebutuhannya yang hanya dibekali dengan sedikit harta warisan. Mendengar suara kuda yang berisik dan dentingan lonceng, pelayan rumah keluarga Smith yang bernama Nyonya Prudence membukakan pintu rumah untuk menyambut tamu yang telah ditunggu Lady Sylvia begitu lama.

“Maafkan saya, My Lady. Ada seorang pria yang mengaku kakak Anda sedang menunggu di ruang tamu”

“Baiklah, Prudence. Katakan padanya aku akan segera turun” tanggap Sylvia yang sedang membaca sebuah buku karya William Shakespeare di perpustakaan sambil menghangatkan tubuh di dekat perapian. Dengan senyum puas mengembang di wajahnya, Sylvia yang hanya dibalut dengan gaun tidur sutra ini mengambil mantel hijau untuk menutupi gaun putihnya.

Tidak lama selang orang yang disebut Prudence pergi, Lady Sylvia menemui kakanya di ruang tamu, entah bagaimana mungkin wajah kakaknya sejak pernikahannya dengan Sir Morgan Smith tujuh belas tahun silam yang kurang disetujui keluarga mereka karena status sosial Morgan yang tidak berkelas sosial tinggi.

Dengan hati berpacu kencang, Sylvia mengikat ujung tali mantelnya karena udara salazar yang begitu dingin, wanita yang umurnya sudah tidak muda ini tidak sabar untuk bertemu dengan kakaknya yang selama ini hanya berkomunikasi dengannya melalui surat. Sesampainya di ruang tamu, Sylvia begitu terkejut melihat kakakknya yang dulu bertubuh gagah dan berdada bidang, kini hanya seorang pria paruh baya yang tidak terurus, penampilannya sungguh memilukan, tubuh yang begitu rapuh dengan statusnya sebagai duda.

“Sylvia” gumam Spencer hampir tidak bisa didengar.

“Oh kakakku, Spencer” balas Sylvia mengurai air mata haru, Sylvia langsung membekap Spencer dipelukannya, perasaan rindu mereka berdua langsung berbaur menjadi satu di setiap inci kedekatan kakak beradik itu.

“Sylvia. Adiku satu-satunya, aku sangat merindukanmu”

“Begitu pula denganku, Spencer. Coba ceritakan, mengapa kau tidak membalas suratku berbulan-bulan lalu dan baru mengirimiku surat dipenghujung musim panas ini. Kau tidak tahu kalau diriku sangatlah kesepian”

“Maafkan aku, Dik. Banyak sekali hal yang harus aku ceritakan, aku tidak bisa menceritakannya lewat surat, jadi sebelum keberangkatanku ke London, aku baru mengirimimu surat”

“Baiklah, yang terpenting kau sudah datang, aku telah menunggu kedatanganmu sejak pagi. Kau tampak begitu kacau, coba lihat wajahmu! Apa yang telah terjadi, Spence? Mengapa tubuhmu begitu kedinginan. Kamu menggigil, ayo hangatkan tubuhmu di ruang kerjaku saja, perapian disini kurang bagus untuk kita mengobrol. Mari…ikutlah denganku”

Sylvia membimbing kakaknya ke arah ruang kerjanya yang terletak di lantai kedua rumah itu, Sylvia menjelaskan bahwa dulu ruangan itu adalah ruang kerja suaminya, namun setelah dibiarkan kosong beberapa bulan, ruang yang dipenuhi buku-buku kuno ini menjadi tempat kesukaan Sylvia untuk mengenang suaminya.

“Duduklah disini, Spence” kata Sylvia membimbing kakaknya ke dekat perapian, setelah tubuh Spencer terasa lebih hangat, dia merasa dirinya lebih nyaman. Di hadapannya, pantulan api yang membakar kayu, tampak jelas menggambarkan bagaimana wajah Spencer saat ini.

Spencer terlihat begitu kalut, bagaimanapun pria paruh baya ini ingin menyembunyikan kekalutannya, ia tidak bisa menyembunyikan semua kekalutannya dari Sylvia yang sudah benar-benar hapal setiap raut wajah kakaknya.  Tampak jelas sosok seorang pemuda berambut gelap, berkulit sangat pucat, bertubuh lumayan tinggi, berbalut jas dan kemeja yang sepertinya belum diganti selama berhari-hari selama perjalanannya menuju London. Air mata bening tiba-tiba berlinang di pipinya, sementara suaranya berubah menjadi serak terhalangi air mata yang menekan tenggorokannya.

“Oh” gumam Sylvia ikut bersedih, wanita yang hanya berumur satu setengah tahun lebih muda dari Spencer ini menaruh simpati yang begitu besar terhadap kakaknya, jemari kurusnya membunyikan lonceng untuk memanggil Prudence. Tidak lama setelah lonceng dibunyikan, Prudence satu-satunya pelayan di rumah itu datang mengetuk pintu ruang kerja Sylvia dengan irama yang begitu sopan.

“Oh Prudence! Buatkan teh untuk kami” perintah Sylvia yang ditanggapi dengan anggukan patuh dari si pelayan.

“Maafkan aku, Sylvia. Aku sudah mengganggu waktumu malam ini, namun aku sungguh tidak tahu harus pergi kemana lagi, hanya dirimu yang aku miliki saat ini dan hanya dirimulah tempat aku bersandar sejak kecil”

“Tidak usah meminta maaf, aku ini adalah adikmu dan sudah sepantasnya kau meminta bantuanku untuk berkeluh kesah, sekarang ceritakanlah semua masalahmu kepadaku” jawab Sylvia hangat.

Sungguh Spencer yang telah berubah drastis, bulu tipis sekitar rahang menghiasi wajahnya, mata Spencer begitu merah seperti hantu, Sylvia yakin bahwa wajah yang berbentuk persegi ini pasti akan berhasil untuk menakut-nakuti seluruh anak kecil di penjuru Inggris, kedua tangan Spencer saling mengepal dan menutupi wajah, sungguh menyedihkan tampang Lord Spencer saat ini.

“Dimulai semenjak dua puluh lima tahun silam, saat aku menikahi Georgiana. Kami berdua sangat bahagia apalagi setelah Georgiana-ku, malaikat hidupku melahirkan putri pertama kami, kamu masih ingat Bessie?”

“Oh Bessie! Bagaimana kabar gadis cilik itu saat ini? Tentu saja aku masih mengingatnya!”

“Dia telah menikahi seorang pemuda Prancis bernama Monsiur Roland, kini malaikat kecilku itu tinggal di Prancis”

“Oh! Aku bisa membayangkan betapa beruntungnya Tuan Roland mendapatkan Bessie kecilku yang cantik”

“Sylvia, seandainya kamu melihatnya, Bessie sudah bukan gadis kecil kita, dia tumbuh dewasa sebagai wanita Inggris yang sangat cantik, mengikuti setiap jamuan makan dan pesta dansa, sungguh dia seperti ibunya yang seorang malaikat, sangat mirip dengan Georgiana!”

“Ini minum tehnya agar tubuhmu lebih hangat” sela Sylvia saat Prudence masuk dengan membawa peralatan minum teh yang terbuat dari perunggu sederhana.

“Terima kasih Sylvia, aku ingin kembali ke inti permasalahan. Namun, sebelum aku menceritakan masalahku, ceritakan tentang keluargamu. Maafkan aku karena baru bisa berkunjung hari ini”

“Spencer, hidupku sangat sempurna. Kau tidak perlu meminta maaf lagi, aku sudah sangat berterima kasih atas restu yang kau berikan saat semua orang menolak pernikahanku dengan Morgan, Morgan pergi dua tahun yang lalu karena kanker rahang. Dewa gunturku meninggalkanku dengan dua orang anak, William dan Diana kecilku. Mereka sedang terlelap di kamar masing-masing”

“Besok pagi aku akan menemui mereka, aku tidak sabar melihat wajah keponakan-keponakan kecilku itu”

“Aku akan bertaruh, mereka pasti akan sangat bahagia setelah bertemu dengan paman mereka satu-satunya. Jadi, bagaimana kelanjutan kisahmu, Spence?”

“Aku harap mereka tidak akan mengutuk pamannya yang jarang berkunjung ini. Oh mengenai itu, yah, didalam surat-suratku, aku telah mengatakan kalau kami memiliki seorang pewaris setelah dua kali memiliki putri, bukan?”

“Tentu saja, oh si kecil George! Bagaimana ceritanya?”

“Bessie, dan Mary tumbuh sebagai anak-anak dari kalangan terhormat dan memiliki kelas sosial tinggi di masyarakat. Aku sangat senang melihat gadis-gadis itu hidup rukun sebagai gadis terhormat mengikuti jejak ibu mereka yang luar biasa, termasuk mengikuti jejak bibinya yang anggun”

“Spence, bisanya kau menggoda adikmu ini yang jelas sekali tidak seanggun Georgiana-mu”

“Siapa bilang? Kau Sylvia, tetap berdarah Graville, selamanya menjadi wanita tercantik di bumi Inggris”

“Lanjutkan” kata Sylvia sambil tersipu malu.

“Kemudian, semua itu hancur ketika Georgiana, melahirkan George, kau tahu kan, kalau Georgiana tidak bisa bertahan” Sylvia mengangguk perlahan, wanita itu mau tidak mau mengingat semua kisah bersama iparnya yang cantik. Georgiana gadis Inggris yang sangat mempesona, dirinya bisa menarik seluruh perhatian kaum pemuda di tanah London, namun hanya seorang pria berdada bidang behati tulus dan berkelakuan selayaknya Lord sejatilah yang bisa membuat hati Georgiana berbunga-bunga, kakaknya sendiri, Spencer.

“Georganaku yang sangat aku puja pasti akan bahagia kalau mengetahui seluruh anaknya menikah dengan kaum bangsawan, kecuali George. Namun, aku akan menceritakan kisah anakku itu setelah kau menceritakan seluruh keluh kesahmu selama ini”

“Kepahitan duniaku sudah bisa aku tangani, My Lord. Yang terpenting saat ini adalah kau menceritakan seluruh keluh kesahmu kepadaku”

“Tidak, adikku. Aku kemari bukan hanya untuk menceritakan masalahku, namun aku ingin kau juga menceritakan masalahmu”

“Baiklah kalau kau memaksa. Morgan, kau tahu betapa besar aku mencintainya kan?” terlihat ekspresi wajah Sylvia yang berubah murung, mengerutkan dahinya frustrasi.

“Dia meninggalkan kami dengan William dan Diana masih sangat kecil, William bahkan belum bisa dikatakan sebagai penerus keluarga ini. Oh, Spence! Sesungguhnya aku sangat mengkhawatirkan keluargaku ini, keuangan kami, kau tahu sendiri. Morgan bukan lahir dari keluarga bangsawan seperti dirimu, dia pun tidak meninggalkan warisan yang cukup banyak untuk keluarga ini” tangis Sylvia mengalir seketika, ia sudah tidak bisa membendung kesedihannya yang menusuk dari dalam dada semenjak mengingat Morgan. Sylvia duduk di sofa samping Spencer dekat perapian, kedua saudara ini bermuram durja saling melepas kepenatan.

“Aku sangat mengerti perasaanmu, jangan mengkhawatirkan William atau Diana. Aku berjanji akan merawat mereka sebaik aku merawat anak-anakku sendiri”

“Oh jangan! Aku tidak mau merepotkanmu, cukup sudah aku terlalu sering membuat hidupmu susah”

“Kamu adalah satu-satunya yang aku miliki, setelah anak-anakku menikah, sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi keponakan-keponakanku, Dik”

“Aku dapat mengerti kalau kau memaksa, sepertinya pembicaraan kita dari tadi terus saja terhambat. Sekarang, tolong kau jelaskan apa yang terjadi kepadamu”

Dengan tangan yang gemetar disinari cahaya perapian, Sylvia bisa dengan jelas melihat kerutan urat tangan kakaknya, otot-otot itu mengencang, walau kulit wajahnya sangat pucat, bisa terlihat jelas kulit jemari tangan Spencer begitu kotor dengan dipenuhi butiran-butiran tanah berwarna cokelat kemerahan yang mengering ditangannya.

“Kau begitu kotor, maukah jika aku meminta Prudence mengambilkanmu baskom dan pakaian ganti? Terlihat jelas kemeja dan rompimu begitu penuh lumpur, dan apa ini?”

Jemari Sylvia mencoba untuk menghilangkan debu-debu yang melekat di jas Spencer dengan mengibas jas berwarna coklat tua itu, jemari Sylvia menepuk-nepuk bahu padat Spencer sambil membersihkan butiran tanah, Sylvia menemukan beberapa kelopak bunga kamelia dan mawar putih dirambut Spencer.

“Apa kau sudah makan? Kebetulan masih banyak daging dan pai domba menu makan malam hari ini, aku bisa meminta Prudence mengambilkan seluruh keperluanmu, jangan pernah sungkan denganku”

“Baiklah, Dik. Aku hanya menginginkan sepotong pai domba yang kau sebutkan, karena sudah beberapa hari setelah perjalananku dari Yorkshire aku belum menyentuh makanan sama sekali”

“Pantas saja, tubuhmu tidak sepadat dulu, dadamu tidak sebidang beberapa tahun silam sejak kita bertemu. Lihat wajahmu! Sangat pucat seperti gaun tidur sutraku, dan tanganmu gemetar hebat. Oh Tuhanku di surga! Tanganmu begitu dingin, sedingin udara malam dimusim dingin”

“Tidak apa, Adikku”. Namun, Sylvia kembali membunyikan lonceng untuk memanggil Prudence, Prudence yang patuh dengan cepat membawa nampan berisi berbagai macam makanan untuk Spencer, termasuk segelas wiski untuk menghangatkan tubuh Spencer yang menggigil hebat karena dingin.

“Prudence, tambahkan batu bara” Prudence yang berumur sekitar enam puluh tahun dengan lihai mematuhi perintah majikannya, ia menunduk dan menambahkan beberapa biji batu bara sehingga api di perapian itu tetap akan terasa hangat dan tidak padam.

“Permisi, My Lady” ucap Prudence sopan ketika selesai menyelesaikan tugas-tuganya.

“Aku menyarankan agar kau lekas mengganti jasmu yang basah dan kotor dipenuhi lumpur, dengan berlama-lama memakai setelan basah itu, kau akan jatuh sakit”

“Jangan terlalu mempedulikan kesehatanku, Sylvia. Sudah kukatakan kalau aku baik-baik saja, aku hanya lelah. Itu saja”

Dengan lahap, Spencer melahap seluruh hidangan yang diberikan adiknya, perutnya tidak mau berhenti menerima asupan makanan, lapar benar-benar menggerogoti seluruh akal sehatnya, membuat tubuh yang semakin tua itu semakin tidak berdaya.

Setelah meneguk cangkir wiskinya, Spencer mencoba menenangkan hati di dekat perapian. Sungguh nyaman rasanya bisa memejamkan mata walau hanya sebentar dihangatnya malam bersama sang adik yang lama tidak dijumpainya.

“Jadi, kami pernah menyekolahkan George dirumah, memanggil guru pribadi. George yang semula pendiam berubah menjadi anak kecil yang sangat lincah ketika aku mendapat seorang penyewa tanah dekatmansion kami, jarak rumah kami dan keluarga Graham hanya sekitar lima ratus meter, dengan kuda poni yang aku berikan kepada anak-anakku, George sering sekali pergi dari rumah untuk bermain dengan Henry. Pada awalnya aku selalu mengizinkannya karena George butuh teman bermain, apalagi dia satu-satunya anakku yang belum pernah merasakan kasih Georgiana yang malang…”

“Setelah beberapa tahun mereka menjadi akrab, George tahu kalau dia akan menjadi pewaris tunggal seluruh keluargaku, dia berubah angkuh. Saat aku pergi mengurus bisnis di Liverpool beberapa bulan bahkan hampir dalam waktu satu tahun, aku meninggalkan rumah dalam pengawasan George. Entah apa yang terjadi selama aku pergi, Mary hanya menceritakan sedikit hal mengenai tingkah laku adik laki-lakinya, George sempat menyulap rumahku untuk pertunjukan teater kecil-kecilan, awalnya aku menyukai gagasannya karena dia mewarisi naluri alamiku sebagai seorang pembisnis. Namun, perselisihan selalu terjadi antara  kedua putriku dan George, George pernah mengatakan kalau dia ingin kedua kakaknya pergi dari rumah. Itu sebabnya, dua tahun lalu aku mengadakan pesta dansa di rumahku dan mengundang kalian; Morgan, dirimu, William dan Diana. Pesta sudah dipersiapkan secara benar-benar matang setelah suratmu yang mengabarkan kalau Morgan meninggal dunia dan kalian tidak bisa datang. Di pesta dansa yang sesaat sangat membahagiakan, Bessie bertemu dengan pasangannya, aku mengundang beberapa temanku yang aku jumpai saat berkelana di Eropa, Bessie menikah dengan seorang pria prancis, Mary-ku masih remaja saat itu, aku sedang menyiapkannya untuk pergi ke acara-acara sosial. Sedangkan George, pergi di malam pesta dansa itu dan kembali beberapa bulan setelahnya dalam keadaan mabuk. Dan coba tebak, Adikku”

“Maafkan aku, Spence. Aku begitu sibuk mencerna omonganmu, aku tidak sanggup menebak apa yang terjadi dengan Georgemu”

“Dia pulang dalam keadaan mabuk dan terjatuh dari kuda jantannya, dibimbing berjalan oleh Henry tetangga kami. Aku mulai berpikir kalau Henry mempunyai pengaruh buruk terhadap pikiran George yang malang. Aku mengurung George untuk beberapa saat sebelum mengusir keluarga yang malang itu, hatiku hancur melihat Tuan Stanley yang mengetahui apa yang telah diperbuat anaknya. Namun, aku terlalu memikirkan nasib George. George berubah sedikit membaik setelah kepergian kawannya, dia lebih menurut dengan kata-kataku. Seiring berjalannya waktu, aku mulai bangga terhadapnya, dia mengenalkan kakaknya Mery kepada seorang temannya, Luke. Dia adalah pria yang sangat taat, seorang pendeta di wilayah kami, walau hidup mereka sederhana bahkan sangat sederhana, Mary bahagia bersama Luke. Dan aku langsung merestui hubungan mereka, sebisa mungkin aku tetap akan membantu keuangan Mary kalau dia meminta”

“Oh Mary, seperti apa wajahnya sekarang?”

“Dia begitu cantik, para tetangga sering mengatakan kalau Mary lebih mirip denganku, dia mewarisi mata biruku, sedangkan mata anak-anakku yang lain lebih cenderung mirip dengan Georgiana, bermata gelap. Mary tumbuh sebagai anak yang sangat sederhana, kesederhanaannya yang membuat gadis itu tumbuh dengan penuh rasa syukur. Namun, aku akan melanjutkan mengenai masalah George” terdapat jeda yang lumayan lama ketika Spencer akan memulai ceritanya lagi, Spencer menghirup napas panjang lalu meneguk tehnya yang sudah dingin. Sylvia merasakan beban yang begitu berat harus ditanggung kakaknya, oleh karena itu dia mengelus punggung lebar kakaknya dengan penuh kasih sayang.

“Aku memberi George tugas untuk menyelesaikan urusan bisnisku di London karena pada saat itu aku sudah cukup percaya akan kemampuannya. Oh Sylvia, seandainya kamu ada disisiku saat itu, aku sangat kesepian berada dalam mansion seorang diri sebagai pria yang rapuh. Anak-anakku pergi, hanya lukisan Georgiana yang menemani hari-hariku dan aku lebih menyukai surat. Aku senang membaca surat-suratmu yang melukiskan William dan Diana, keponakanku yang baik, aku senang membaca surat-surat Bessie. Mary yang baik dan suaminya lebih sering mengunjungiku, aku menawarinya jamuan makan malam beberapa minggu sekali bahkan aku menawarinya tempat di Hartfield namun pasangan baru itu lebih menyukai rumahnya yang sederhana… Sylvia, George tidak pernah mengirimiku surat satu lembar pun, namun aku mempunyai beberapa teman dekat yang tinggal di London. Tuan Hambert, salah satu penyewa tanahku dulu yang melanjutkan bisnis di London mengirimiku surat. Beliau mengatakan kalau George bertemu dengan kawan lamanya, Henry di sebuah kedai minuman. Mereka berteman lagi dan aku semakin hari semakin mengkhawatirkan keadaan George, sampai…”

“Kalau kau tidak sanggup menyelesaikan ceritamu malam ini, masih banyak hari yang akan kau lewatkan. Aku dengan senang hati menerimamu sebagai tamu di rumahku”

“Tidak, Popet. Aku ingin menyelesaikan ceritaku malam ini” butiran air mata mengalir dari pipi Spencer, Spencer yang frustasi hanya bisa menarik rambutnya pasrah.

“Dan suatu pagi ketika aku akan memulai sarapan, aku menemukan tumpukan koran yang dibawa pelayanku. Disana aku melihat sebuah artikel koran yang sangat buruk mengenai George. Dia telah terlibat skandal yang memilukan, dia membawa kabur putri Lord Tenneson yang telah bertunangan. Aku marah besar, aku mencoba mengirim beberapa surat ke alamat George di London, George tidak membalasnya sama sekali, hingga aku memutuskan untuk datang sediri kemari. Dan….”

“Oh keponakanku yang malang!”

“Sylvia, aku kemari untuk mewarisi seluruh kekayaanku kepada William” lanjut Spencer dengan suara yang mantap dan lantang.

Advertisements

2 thoughts on “Lord Spencer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s