Violet Lady

Sinar keemasan matahari mulai berganti jingga kemerahan, memudarkan pesona emas di langit biru untuk segera terlelap di ufuk barat. Disana, di bawah langit yang jingga, di atas pertiwi yang hijau, seorang gadis berpenampilan rapi sedang mengendarai mobil suzuki Swift berwarna silver, mobil berplat hitam itu dihiasi beberapa buah stiker yang mengisyaratkan bahwa gadis itu seorang mahasiswi Pertanian di salah satu universitas swasta di kota Malang.

Bibirnya yang berbentuk hati penuh berwarna merah terang ini sedang menyiulkan sebuah lagu yang didengarnya di radio mobil, balada lagu berirama ceria itu membuat hatinya semakin berpacu semangat. Dengan mata yang dibingkai kacamata hitam oval, gadis itu sedang melirik kearah kiri dan kanan untuk mendapatkan tempat parkir mobilnya. Selama beberapa menit mencari, gadis yang memakai kalung berbandul ‘setengah jantung’ ini mendapat sebuah tempat parkir yang layak. Setelah mendapat tempat parkir yang nyaman di bawah pohon palm, gadis yang bernama Samanta Riyadi ini turun dengan anggunnya dari mobil. Tangan kanannya menggenggam tas tangan yang berwarna hitam mengkilat, sedangkan tangan kirinya masih memegang kunci mobil. Kedua kaki jenjangnya melangkah masuk ke dalam sebuah cafe di kawasan Veteran, kota Malang.

Setelah memilih tempat duduk di pinggir jendela dengan pemandangan luar taman bunga milik cafe yang menjual makanan khas Thailand itu, Gadis yang memakai pakaian bernuansa ungu ini merogoh sebuah beauty case dalam tas tangannya. Membuka ziper dan mulai mengambil sebuah cermin berukuran kecil untuk mengamati wajah ayunya. Samanta yang berwajah sedikit India ini sengaja membuat rambut lurus tipisnya berubah menjadi keriting bervolume, jari telunjuk kanannya memelintir satu persatu bagian rambutnya agar tetap terlihat rapi, sementara jemari kirinya memegang kaca kecil berbingkai ungu, sedikit tersenyum puas, bibir Samanta kembali menyenandungkan lagu didengarnya di dalam mobil.

Tidak lama setelah Samanta duduk nyaman diatas tempat duduk sofa yang lembut, seorang pelayan pria bertubuh ceking datang dengan menggenggam sebuah buku menu di tangan kanannya, mulai memperkenalkan diri dengan sangat ramah dan menawari Samanta dengan menu-menu andalan di Cafe, menanggapi pelayan ini, Samanta mengembangkan senyumnya yang luar biasa memikat dan menolak halus tawaran menu dari pelayan yang berambut acak-acakan ini.

“Selamat sore, dengan saya Fikri. Apakah mbak sudah mau memesan? Disini, kami menyediakan beberapa masakan Thailand, diantaranya lumpia Thailand yang dijamin rasanya enak. Mbak mau pesan sekarang?”

“Biar saja menunya di meja saya, dulu. Saya belum mau pesan apa-apa” tanggap Manta dengan nada suara yang tidak kalah lembut.

Setelah pelayan berkemeja hitam itu pergi, Samanta kembali terfokus pada cermin mungilnya, ia sedang memperhatikan wajahnya yang cantik, bibir penuh itu menyunggingkan sebuah senyum simpul saat memperhatikan wajahnya sendiri yang hari ini tampak sempurna. Namun, setelah telunjuk kanannya membelai hidungnya yang semancung pinokio, Samanta sedikit merasa resah dan membatin.

“Uh! Kok berminyak sih” gerutu Samanta pelan sambil merogoh lagi sesuatu di dalam tasnya, setelah beberapa detik mengaduk-aduk tas itu, Samanta meraih barang yang diinginkannya. Kertas minyak untuk wajah.

Dengan cekatan, gadis berambut ikal itu menyobek dua lembar kertas minyak dan memijat-mijatnya di bagian wajah, terutama hidungnya yang sudah mengkilat berminyak. Setelah merasa wajahnya cukup kering, Samanta kembali memperhatikan wajah ovalnya, dengan cibiran khas wanita pesolek, ia membuka ziper beauty case lagi dan menggenggam sebuah compact powder. Dibukanya compact powder merk sebuah perusahaan kosmetik terkenal di Indonesia dan tangannya pun dengan lihai menyapukan spon bedak itu secara tipis dan merata pada bagian wajah dan lehernya yang panjang. Lagi dan lagi Samanta memperhatikan wajahnya, kali ini dia tersenyum puas karena wajah itu sudah tidak berminyak. Samanta memfokuskan pandangannya keluar cafe, memperhatikan pengunjung lain yang sedang tertawa bahagia, tanpa disadari bibir Samanta ikut tersenyum tulus dan jemarinya terus saja menggenggam liontin kalungnya. Baru lima menit pikirannya terbang kesana kemari, seorang pelayan wanita datang dengan senyuman lebar, namun bernada sedikit ketus.

“Selamat sore, bagaimana, sudah ada yang ingin anda pesan?”

“Sebenarnya sih belum. Tapi, air putih nggak dingin boleh sih”

“Itu saja? Mau coba lumpia Thailand kami yang super lezat? Atau puding kopi dengan saus karamel?”

“Nanti saja, Mbak. Air putih cukup”

Sebenarnya, Samanta sedikit kesal karena pelayan di cafe ini tidak sabar dalam menghadapi pelanggan, gadis itu baru saja duduk di bangkunya kurang dari sepuluh menit. Namun, pelayan sudah mondar-mandir resah karena dia belum memesan makanan sama sekali. Samanta pun akhirnya mencoba mengalihkan fokus pada dirinya lagi, melihat pantulan dirinya dikaca hitam cafe, ia merasa tidak ada yang ingin dia benahi lagi, Samanta meraih ponselnya dan menelepon seorang sahabatnya.

“Hallo, Ndy. Lagi dimana?” tanya Samanta pada temannya yang bernama Indy melalui telepon seluler.

“Di kos nih lagi nggak ada kerjaan”

“Yaudah temenin aku ngobrol sebentar. Kamu tahu nggak, si Ade jual kemeja lucu-lucu lho!”

Sambil berbicara dengan temannya, Samanta kembali melirik ke arah cermin mungilnya, kali ini bibir yang tadinya berlipstik merah tebal ini menjadi sedikit pucat, maklum Samanta kebiasaan menjilat bibirnya kalau kering. Tapi belum saatnya ia memoles lipstik lagi, pikirnya. Saat pembicaraan mengenai fashion itu terus mengalir, Samanta terus memelintir rambutnya agar tetap terlihat rapi, sesekali ia meneguk air mineral yang telah dipesannya.

“Tapi biarpun Tiya seorang model, gadis sampul pula, pakaiannya sehari-hari lho nggak mencerminkan dirinya sebagai model” lanjut Samanta. Ternyata pembicaraan kedua gadis itu sudah berubah, yang semula tentang fashion dan bisnis teman sekelasnya, sekarang sudah berubah menjadi gosip memilukan.

“Hahaha… aku juga mikir seperti itu, dandanannya biasa banget, rambutnya malah seperti jarang di sisir” imbuh Indy sambil tertawa kencang.

“Tapi coba deh baca timeline dia di twitter, lagaknya kayak sudah menjadi putri Indonesia”

“Yang benar? Memang dia bilang apa di twitter?”

“Dia sok pamer tentang koleksi foto-fotonya pas pemilihan gadis sampul! MAS!” sambung Samanta sambil memanggil pelayan pria yang awal tadi menawari gadis ini minuman.

“Aku mau pesan puding kopi” tambah gadis yang melipat kacamata hitamnya di kerah kemeja ungu yang dikenakannya.

“Baik, Mbak” turut si pelayan yang kalau diperhatikan berwajah mirip Afgan.

“Eh pelayan di cafe ini cakep lho, mirip Afgan!”

Dasar wanita, obrolan yang mulanya mengenai bisnis bisa lompat-lompat berubah sampai ke cowok.

“Yang benar? Wah! Kamu di cafe mana? Aku mau kesana! Aku kan fans beratnya Afgan!”

“Cafe Halilintar di jalan Veteran, besok saja kesininya”

“Iya! Lagian aku lagi malas kemana-mana, enak malas-malasan di kos sambil makan jajan dari teman sekamarku yang dia bawa dari Medan”

“Medan? Septi? Dia pasti bawa pancake durian?”

“Iya, si Septi dan ini pancake duriannya mantap banget!”

“Mau doooooooong! Bagi”

“Besok sebelum kuliah, mampir aja ke kos, sebelum kehabisan”

“Sebentar lagi aku telepon, sekarang aku mau menikmati puding kopiku, ya! Byeeee”

“Eh….”

Fikri yang berkaca mata dengan senyum dihiasi lesung pipi pun menata puding kopi dengan saus karamel di atas meja Samanta, dengan satu anggukan sopan, pelayan itu berlalu meninggalkan gadis berambut hitam sepunggung ini. Entah apa yang sedang ia pikirkan, Samanta hanya menatap pudingnya dengan pandangan kosong, jemarinya memainkan sendok dengan lihai, bibirnya sedikit tersenyum. Perlahan mengambil napas panjang dan menghembuskannya dengan sembarangan, Samanta mulai menyendok puding lembut itu dan mencomotnya ke dalam mulut. Terasa manis dan pahit menari-nari menggoyangkan lidahnya yang kaku. Setelah puding pahit yang dipadukan dengan karamel manis itu sampai di tengah tenggorokan Manta, dahi gadis itu mengkerut. Samanta menyendok lagi beberapa potong puding kopi ke dalam mulutnya. Namun, belum sampai setengah mangkuk, Samanta sudah membalikkan sendoknya pertanda kalau dia sudah akan berhenti menyantap puding yang terasa aneh di mulutnya, perutnya pun terasa sangat kenyang walau sejak pagi belum memasukkan makanan apapun ke dalam perutnya.

Dengan arah pandangan matanya melirik jam kayu di dinding cafe, Samanta menekan nomor telepon sahabatnya lagi.

“Hai, ternyata puding kopi nggak selezat kata-kata pelayan disini”

“Ah kamu! Tiba-tiba nelepon, tiba-tiba matiin. Cepet sekali lupa sama teman!”

“Kamu ngambek? Aduh maaf deh! Bukan maksud aku begitu”

Sambil berbincang lagi dengan sahabatnya, Samanta kembali melirik wajahnya di cermin genggamannya. Setelah melihat poninya sedikit berantakan, jemarinya kembali merogoh sesuatu dalam tas, ia sedang membutuhkan sisir kecil untuk merapikan rambut poninya yang seperti tertiup badai.

“Terus kapan kamu kerjain tugas Statistik?” tanya Indy dengan nada cukup serius.

“Malas ih”

“Nggak boleh begitu, kamu harus rajin dong mengerjakan tugas!”

Mendengar kata tugas, Samanta hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal, bersalah karena tidak pernah ingat kalau kuliah itu banyak tugas. Disisi lain, entah karena kebanyakan minum atau kedinginan karena pendingin ruangan yang membuat kulit bergidik, Samanta merasa keinginan luar biasa untuk segera ke kamar mandi. Dengan berlari pelan, suara dari hak sepatu tingginya yang bising berhasil membuat hampir seluruh pengunjung ruangan melirik sinis ke arahnya. Tidak peduli dengan itu semua, Samanta akhirnya sampai di ruang kamar mandi cafe yang keseluruhan dindingnya berwarna biru langit.

Setelah menyelesaikan hal yang paling ingin diselesaikan, telinga Samanta yang masih lengket dengan telepon genggamnya lantas mengamati dirinya di cermin. Gadis ini cukup puas dengan tubuh kencangnya yang sangat sesuai dengan kemeja berwarna ungu yang sedang melekat di tubuhnya. Kemeja polos dengan bahan chiffon ini dihiasi dengan empat buah kancing berukuran besar di empat bagian depan, dipadukan dengan jeans berwarna ungu tua yang baru dibelinya dua hari yang lalu. Kemeja ini pun baru dia beli dua hari yang lalu, itu sebabnya hari ini Samanta terlihat cantik dengan baju yang masih fresh.

Samanta mengeringkan jemarinya yang basah, lalu mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan sepatu hak tingginya yang berwarna ungu cerah agar kering dan kembali mengkilat. Tidak lupa, Samanta mengencangkan ikat pinggangnya yang longgar, menghadap miring ke arah cermin dan memperhatikan lekat-lekat pantulan wajahnya disana. Tubuh dan wajahnya tampak sempurnya, kecuali perutnya yang sedikit membuncit.

“Sial!” gerutu Samanta.

“Seharusnya aku nggak makan puding tadi”

“Kenapa, Man? Perutmu berubah buncit?”

“Iya nih, Ndy. Padahal sudah bela-belain nggak makan dari pagi supaya nggak buncit. Eh ini malah jadi begini”

“Emang dasarnya saja kamu yang gendut”

“Malas deh ngobrol sama kamu!”
“Malas nggak malas, aku mau beli makan malam dulu, bye Manta gendut!”

“Ih!” balas Samanta sedikit kesal.

Menarik napas dan menahannya beberapa kalipun tidak ada gunanya, Samanta tetap terlihat buncit dengan kemeja yang sangat pas melekat dan mengekspose tubuhnya dengan jelas. Apa boleh buat, dengan berusaha sekuat tenaga meredam emosinya, Samanta keluar dari toilet dan kembali ke tempat duduknya.

Pelayan yang tadi sempat dia katakan mirip Afgan pun datang kembali, kali ini dia menawarkan kembali menu-menu andalan di cafe ini, yang kali ini dia tawarkan adalah menu masakan eropa.

“Permisi, Mbak. Mau mencoba masakah Eropa khas cafe ini? Banyak macamnya lho, ada steak yang dijamin rasanya lezat. Dagingnya diimport langsung dari New Zealand, dijamin segar danfresh”

“(Fresh dan segar sama saja kaleee artinya) Nggak deh nanti aja” jawab Samanta dengan nada agak ketus.

Lagi-lagi pelayan tadi tersenyum ‘dibuat’ ramah dan beranjak dari hadapan Samanta, sepertinya dua orang pelayan yang berdiri di dekat toilet itu tidak betah melihat Samanta hanya duduk berlama-lama tanpa memesan apapun kecuali puding kopi yang terasa sangat pahit di lidahnya.

Disamping sudut matanya memandang, Samanta bisa melihat dua orang pelayan itu sedang berbisik, bola mata pelayan yang tadi menawarkan beberapa menu dengan nada ketus menghujam ke arah Samanta, sedangkan pelayan yang rambutnya dikepang dua melemparkan senyum sinis ke arah Manta.

Dengan sedikit kesal dan frustasi, jemari kurus Samanta terus saja mengetuk meja di hadapannya sedangkan kedua kakinya yang saling disilangkan terus saja bergerak tidak beraturan. Di dalam otaknya, gadis itu teringat sebuah novel yang baru selesai ia baca, novel karya penulis kesukaannya, Sabrina Jeffries yang berjudul Married to The Viscount, gadis penyuka Historical Romance itu mengingat quotes pengarang di setiap bab dalam cerita. Quotes yang berisi nasehat-nasehat kepada pelayan ini terus saja bergumam di otaknya, jemarinya yang mengetuk mejapun berhenti, melainkan mengambil sepucuk tisu putih yang tersedia di atas meja.

“Jangan biarkan pelayan kasar dari rumah orang lain memancingmu bertingkah buruk” tulisnya.

Masih melirik dan berbisik, sekarang kedua pelayan wanita itu sedang mencibir ke arah Samanta. Samanta membalas cibiran kedua gadis itu, entah mengapa suasana hati Samanta hari ini berubah kacau, jadi melihat kelakuan kedua pelayan itu hanya akan menambah suasana hati Samanta tambah buruk. Samanta menepuk tangannya dua kali untuk memanggil Fikri, Fikri dengan senyumannya yang lugu pun patuh dan langsung menghampiri Samanta.

“Sudah mau pesan, Mbak?”

“Iya. Aku pesan lumpia Thailand satu porsi”

“Baik, Mbak. Ada lagi?”

“Sementara itu saja. Oh ya! Tolong berikan tisu ini ke cewek dua yang berdiri di dekat kamar mandi”

“Ini?” tanya Fikri heran dan melongo menatap wajah Manta.

“Sudahlah, ini perintah dari pelanggan” balas Samanta judes. Merasa semakin kesal dan semakin berkobar atas tingkah laku kedua pelayan itu, Samanta merogoh tasnya lagi dan menekan nomor telepon sahabatnya untuk mengadukan semua kekesalan hati yang dia rasakan.

“Hallo!” kata Samanta ketus ketika jaringan telepon genggamnya yang berbingkai bendera Inggris ini telah tersambung ke jaringan telepon genggam Indy.

“Ada apa? Kok daritadi sepertinya badmood?Bukannya harus senang ya hari ini?”

“Iya nih, ada pelayan ngeselin!” seru gadis itu berapi-api.

“Memangnya kamu diapain? Digangguin?”

“Bukan! Aku digosipin, diomongin dari belakang. Siapa coba yang nggak kesal?”

“Bukan ngomongin kamu mungkin itu, mungkin saja dia ngomongin yang lain”

“Kok kamu bela mereka sih? Jelas-jelas mereka berbisik sambil ngelirik ke arahku, terus mereka senyumnya jutek banget! Dasar pelayan kurus kerempeng!”

“Tenang dong, Manta. Janganlah melihat mereka berdua, aku tahu kamu lagi sensitiv hari ini, tapi jangan cepat berasumsi jelek ke orang lain. Mending kamu ke toilet, benerin atau rapiin baju dan tarik napas pelan-pelan”

“Okelah! Pesananku sudah datang, aku mau mencomot lumpia Thailand dulu ya, temanku tersayang”

“Bye!” balas Indy malas.

Fikri datang dengan membawa nampan berukuran sedang, tersenyum ramah dan bersemangat, walau siapa saja yang melihat pria ini akan sadar betapa pucat wajah Fikri yang kecapekan setelah bekerja semalam suntuk.

“Buat kamu deh, Mas” pinta Samanta berubah pikiran, perkataan Manta barusan berhasil membuat Fikri menaikkan kepalanya dan melotot kaget ke arah gadis yang mengeluarkan suara semerdu kicauan burung camar.

“Apa, Mbak?” tanya Fikri masih tidak percaya dan takut salah dengar.

“Aku bilang, ini buat kamu saja, lagian aku sedang nggak napsu makan, ini aku pesan karena ngeliat dua orang teman kamu yang terus mencibir ke arah aku” jelas Manta panjang lebar, Fiki hanya bisa melongo manatap Manta dengan tatapan kosong.

“Sudah! Pergi sana dan jangan lupa bawa makanan ini pergi, biarkan tagihannya saya yang bayar”

“Baik, Mbak. Terima kasih” ucap Fiki sopan dan berlalu pergi setelah kepalanya mengangguk tanda patuh.

Merasa khawatir akan penampilannya setelah digandrungi badmood, Samanta kembali beranjak dari tempat duduknya dan meraih tas tangannya, berjalan anggun ke dalam kamar mandi, Samanta mencoba menarik napas panjang dan menghembuskannya.

Ditengoklah isi tas itu dan diraihnya lagi beauty case ungu miliknya, setelah mengeluarkan beberapa buah alat berdandan, Manta mulai merapikan dandanannya. Dimulai dari bagian rambut, gadis itu dengan cekatan menyisir rambutnya kemudian membuat ikal itu rapi dengan jemarinya. Merasa rambutnya sudah tertata rapi, Manta beralih ke bagian wajah, eyeliner yang sedikit memudar pun diolesi lagi sehingga mata bulat Manta terlihat seperti mata kucing, rapi dan indah dengan garis eyeliner yang rapi. Ditaburnya sedikit bedak untuk menutupi wajahnya yang berminyak setelah ditempelnya beberapa buah kertas minyak wajah sehingga wajahnya terlihat segar kembali. Sementara, bibirnya diolesi lagi lipstik merah menyala yang dibumbuhi lip gloss. Setelah bibirnya berbentuk kerucut, Samanta memperhatikan lekuk tubuhnya yang menawan. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum simpul, matanya terpejam dan tarikan napasnya melambat. Dengan mood yang sudah berhasil ia perbaiki, warna cerah menghiasi pipi putihnya, Manta berjalan keluar dari kamar mandi menuju bangku yang tadi didudukinya.

Dengan perasaan sangat terkejut, hati Manta berubah membara lagi, tempat duduk yang tadi ditinggalkannya beberapa menit sudah ditempati orang lain.

“Kalian!” teriaknya memanggil dua orang pelayan yang tadi membicarakan Manta dari belakang, kedua gadis itu dengan sangat cepat mendekat ke sisi Manta.

“Itu tempat duduk saya! Kenapa diambil orang?”  bentak Manta merasa sangat putus asa.

“Salah anda sendiri, kenapa meninggalkan tempat itu” balas pelayan yang bertubuh lebih berisi.

“Saya kan ke kamar kecil hanya sebentar, nggak sampai lima menit! Kalian nggak becus ya!”

“Eh! Mentang mbak pelanggan disini, mbak jangan seenaknya sama pelayan seperti kami. Maksud anda bentak kami apa?” tantang si gendut.

“Justru karena saya pelanggan, saya berani seenaknya. Saya ini raja, pelanggan itu raja, mengerti!” api amarah Manta mulai berkobar, lupakan apa saja yang membuat hatinya ceria, sekarang hati yang ceria itu sudah terbakar.

“Biarpun raja, nggak boleh seenaknya dong! Maksud anda kasih kami surat ini apa coba!”

‘Oh jadi dua orang ini begini karena tisu ini’ batin Manta, Manta mencibir ke arah mereka berdua.

“Kalian itu ya, jadi pelayan jangan suka ngomongin pelanggan di belakang!” imbuh Samanta.

“Mbak sih, nggak pesan makanan, cuma numpang duduk”

“Ada apa ini?” tanya Fikri menengahi ketiga gadis yang semakin memanas itu.

“Teman anda yang tidak becus sudah membiarkan tempat duduk saya diambil orang!” “Lagian, saya tadi kan sudah pesan puding kopi yang rasanya seperti makan pare! Pahit banget! Karamelnya gosong pula. Seharusnya saya dong yang ngomongin kalian di belakang. Pokonya saya nggak puas sama pelayanan cafe ini” lanjut Manta masih diliputi emosi hati.

“Maafkan kami, Mbak. Mungkin teman saya tidak bermaksud untuk berbicara tidak-tidak di belakang anda, mungkin mereka juga tidak bermaksud apapun untuk memindahkan kursi anda”

“Saya nggak mau tahu!”

“Sekali lagi, maafkan saya, Mbak. Bisakah saya mencarikan anda tempat duduk yang baru?” tanya Fikri ramah. Sekarang bukan hanya Fikri yang datang untuk meredam kemarahan ketiga gadis dengan pendiriannya masing-masing itu, bahkan manager cafe pun ikut datang ke sumber suara bising yang mengganggu telinganya.

“Maafkan pegawai kami, Mbak… Maaf, nama anda siapa?”

“Manta” jawab Manta ketus dan dengan raut wajah super judes.

“Baiklah, Mbak Manta. Bisa saya antar anda ke tempat duduk yang baru, saya berjanji akan menggratiskan segala pesanan anda hari ini” imbuhnya dengan sangat ramah. Sebenarnya suasana hati Samanta hari ini tidak begitu buruk, malah sebenarnya suasana hatinya sejak tadi sedang cerah, namun karena perbuatan kedua pelayan itu membuat suasana hati Manta sedikit terombang ambing. Setelah mendengar permintaan maaf sang manager, apalagi ditambah dengan penggratisan pesanan apa saja yang akan dipesan, membuat suasana hati Manta ceria lagi.

Manta dipilihkan tempat duduk berlabel VIP di sebuah ruang khusus bernuansa Jepang, sungguh indah ruangan itu dipadukan dengan berbagai macam hiasan berbau Jepang. Mulai dari lemari buku seperti milik Nobita di serial Doraemon, hingga lampion dan bunga sakura buatan yang berwarna merah muda lembut. Aroma wewangian lavender memanjakan hidung, dipadu dengan sajian green teadiatas meja. Sungguh berbeda dengan ruangan-ruangan lain, Samanta sangat menyukai tempat duduk barunya yang lebih santai dan memabukkan. Entah keberuntungan apa yang didapatnya hari ini, hatinya sungguh senang, dan kedua kakinya yang sedaritadi kaku karena sepatu berhak  tingginya pun dilepas dan ditaruh disebuah tempat khusus penyimpanan sepatu, tubuhnya yang sedikit pegal disandarkan pada tembok putih yang bersih.

Bibir merah merekahnya menarik ujung-ujungnya membentuk sebuah senyuman puas, Samanta mengetik whatsapp untuk sahabatnya, menceritakan seluruh kejadian dan perselisihan yang terjadi padanya dengan pelayan di cafe ini. Masih dengan senyum manis tersungging di bibirnya, Manta merogoh beauty casenya, mengamati wajahnya yang tampak cerah sebening bunga matahari, dia menarik beberapa napas panjang, menghembuskannya dan kembali tersenyum sendiri. Samanta kembali memelintir rambutnya yang ikal, termenung sesaat dan mengelus dadanya. Entah nasib kedua pelayan itu, sebenarnya Manta sedikit kasihan kepada mereka berdua. Apa boleh buat, nanti dia akan mengatakan kepada manager cafe kalau dia sudah tidak marah kepada kedua gadis itu dan mencegah terjadinya pemecatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s