Senja di Pantai

Ketika libur kuliah, aku dan keluargaku selalu memutuskan untuk pergi menikmati hari di pantai kesayangan, pantai Senggigi di Lombok Barat. Aku sudah bergegas sejak pagi, menyiapkan segala sesuatu yang bisa dipergunakan di pantai, termasuk bekal makanan untuk disantap bersama. Berbagai macam permainan air kami bicarakan di sepanjang perjalanan yang cukup panjang, tidak luput diselingi candaan khas remaja yang semakin membuat hatiku bersemangat. Ketika hari sudah mulai siang, kami tiba di pantai kesayangan, berjalan diatas pasir berwarna putih untuk memilih tempat duduk yang nyaman untuk menikmati hari. Aku memilih tempat bersantai di bawah pohon kelapa yang rindang, menggelar tikar dan mengatur posisi yang nyaman.

Untuk waktu sejenak, aku memperhatikan suasana pantai dengan menyaksikan para pengunjung; baik pengunjung domestik maupun mancanegara. Mereka sedang asyik menikmati keindahan pantai; ada yang sedang berjemur untuk memanjakan kulit dengan hangatnya sinar matahari, ada pula yang sedang menikmati gelombang ombak yang riuh dengan berselancar. Tidak ingin ketinggalan momen, aku mengajak kakakku untuk berenang membasuh badan dengan hangatnya air pantai, kemudian aku membangun sebuah istana pasir yang diinjak kakakku, untuk membalasnya, aku mengambil dan menyiprat air laut tepat ke wajah kakakku, dia membalasku dengan penuh canda. Ibuku sibuk menata bekal diatas tikar agar kami bisa langsung menyantap hidangan itu ketika selesai bermain, setelahnya ia menyusuri bibir pantai untuk mengumpulkan kerang yang akan menjadi hiasan bingkai foto. Ayahku tidak lupa mengabadikan momen dengan kameranya yang mungil. Setelah puas bermain air, kami menyantap bekal dan tidak lupa memesan jagung bakar madu serta camilan khas Lombok lainnya, semakin nikmat hari ini setelah menyantap makanan kesukaan dibawah sejuknya pohon kelapa, aku sangat menikmati detik demi detik perjalanan matahari ke ufuk barat.

Hari menjelang sore, matahari  setengah mulai tergelincir ke ufuk barat. Tidak ada permainan air lagi yang akan aku lakukan, aku hanya akan duduk melihat keagungan Tuhan yang sedang melukis langit. Seiring berjalannya matahari, kami memandangi langit yang tampak memukau dengan dihiasi warna jingga kemerahan, lautan pun ikut membantunya tampak indah dengan memantulkan cahaya emas diatas warna biru lautan yang menggelap, awan seakan tidak mau kalah dengan mengepulkan asapnya yang kemerahan, mengindahkan siapa saja yang menyaksikan senja ini. Nyanyian adzan magrib pun menggema mengingatkan kami akan kebesaran Tuhan. Seiring berjalannya menit, langit yang semula merah berubah menjadi ungu kebiruan yang kemudian menggelap. Bagaikan kunang-kunang yang mampir sejenak, cahaya lentera dari masing-masing gubuk pun dihidupkan, tidak kalah sibuk, para nelayan bersiap dengan segala sesuatu di perahu masing-masing; melebarkan jaring, berharap setiap ikal jaringnya bisa menangkap ikan-ikan untuk dijual, kemudian memasang lampu minyak diatas perahu, bergegas untuk menangkap ikan-ikan kecil yang sedang menari di bawah gelapnya lautan hitam. Hari semakin gelap, tidak seperti lampu minyak yang bersinar redup, jiwa kami berseri cerah menguapkan segala puji syukur atas hari yang indah ini, namun raga ini semakin letih, pertanda hari ini cukup sampai disini, kami pun pulang dengan perasaan yang puas dan bahagia. Aku selalu menyukai suasana pantai, aku selalu menikmati suasana senja.

Advertisements

5 thoughts on “Senja di Pantai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s