My Lombok Ta’jil.

Ta’jil, terlintas di benak setiap orang yang mendengar kata ini adalah jajanan manis untuk berbuka. Jenisnya beragam; dawet, bubur sumsum, kolak dan lain sebagainya. “Berbuka seakan tidak berbuka kalau belum makan tajil”itu lah prinsip keluargaku. Bukan sekedar kebiasaan, tetapi Ta’jil adalah sebuah tradisi. Sayang sekali, hari ini dan untuk seminggu kedepan aku harus berbuka puasa hanya ditemani kakak sepupuku yang jarang di rumah, kedua orangtuaku sedang pergi untuk mengunjungi kakakku yang sibuk koas di salah satu rumah sakit di Malang. Jadi, aku putuskan malam ini akan menginap di rumah salah satu sahabatku, Cika.
            Ramadhan, 2011 di pulau Lombok. Namaku Ella dan saat ini aku baru saja sampai di depan rumah sahabatku. Karena ini hari libur, rumah Cika lah satu-satunya tempat yang akan aku datangi untuk menunggu waktu magrib tiba, rencananya aku akan menginap di sini. Setelah pembantu rumah Cika mempersilahkanku masuk, aku langsung saja berjalan lemas mengetuk pintu kamar tidurnya.
            “ Masuk” terdengar suara Cika yang lembut dari dalam, aku membuka pintu kamarnya dan langsung merebahkan tubuh ke kasur empuk milik Cika.
            “ Di rumah lagi sepi ya, La? Mbak Mela kemana?”
            “ Iya lagi sepi banget, Ka. Tau tuh! Mbak Mela pasti jalan-jalan sama temannya, aku dibiarin di rumah sendirian, kalau waktu magrib selesai baru tuh anak pulang. Jahat ya!”
            “ Iya sudah, selama orangtua kamu di Malang, kamu tinggal sama aku aja!”
            “ Iya, malam ini rencananya aku mau nginap di kamu. Hehe”
            “ Good! Berapa lama lagi buka puasa?” tanya Cika lemas.
            “ Masih lama, Ka. Kamu nggak bosan di rumah terus?”
            “ Bosan sih, kemana ya enaknya kita?”
            “ Hmm.. ke Senggigi aja yuk, jangan renang, foto yang banyak saja, Ka”
            “ Ide yang bagus itu, La! Sambil nanti kita berburu tajil untuk buka puasa. Kita jemput Kiki dulu ya, semoga dia mau, sekarang coba sms Kiki, La. Aku mau ganti baju”
            Jari jemariku dengan lihai menekan tombol handphone, tidak lama, Kiki membalas dan dia setuju untuk berburu ta’jil bersama. Sekarang, aku dan Cika sudah berada di dalam sebuah mobil Inova milik Cika. Kami segera menuju kawasan Montong untuk menjemput Kiki.
            “ Hi, Ki. Bagaimana harimu?” tanyaku sewaktu Kiki masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.
            “ Bosen, La. Untung kalian jemput, eh aku sudah bawa kamera, kita jadi kan ambil foto yang banyak di pantai?”
            “Indeed. Kita fotonya di Senggigi atau Kerandangan?” tanya Cika.
            “ Jangan, bosen tau di Senggigi, aku tahu tempat bagus” jawab Kiki.
            Sekitar lima belas menit perjalanan dari kota Mataram, sekarang kami sudah memasuki kawasan Senggigi. Terlihat sawah hijau yang luas serta para petani yang tetap berkerja membangkitkan semangat kami, jalanan yang berbukit dihiasi pemandangan biru lautan terlihat mempesona di mataku, angin sejuk dari pepohonan kelapa yang menjulang membuat rambut hitamku terbang menari-nari. Aroma segar lautan biru memanjakan hidung kami, segar aroma laut langsung menenangkan jiwaku. Siang ini, kota Sengigi terlihat ramai seperti biasa, hari ini kota Senggigi terasa lebih sejuk karena semalam diguyur hujan, terlihat jelas aspal yang masih becek sebab air hujan yang belum mengering. Kedua bola mataku terpaku ke arah seorang wisatawan mancanegara yang menggotong papan selancar, pria itu terlihat seperti Robbert Pattinson. Dibelakangku, Kiki terus saja memberikan pengarahan pada Cika, kini kita sudah melewati papan kayu yang bertuliskan “Senggigi Beach” dan juga melewati pantai kerandangan. Aku bertanya pada diriku sendiri, ‘kemanakah kami?’
            Cika memarkir mobilnya di bawah pohon kelapa yang tinggi, aku akui, pantai ini sangatlah indah, lebih indah dari pantai senggigi ataupun pantai malimbu. Pasir di pantai ini putih meski dihiasi rumput laut yang berserakan di bibir pantai, deburan ombaknya bersih dan hijau, irama deburan ombak begitu indah bertabrakan dengan bebatuan karang,  cahaya mataharinya yang lumayan terik membuat kulitku sedikit terbakar. Kami sungguh senang, kami berlarian, melompat di bibir pantai, ombak pun bagaikan penuh semangat mengejar kami.
             Kiki beberapa kali mengabadikan saat-saat ini, kami saling bergantian untuk mengambil gambar, jurus berfoto pun sudah banyak kami pakai, kami mengambil gambar dimanapun asal terlihat bagus; atas batu, bibir pantai, dan di bawah pohon secara bergantian. Cika yang saat itu ingin mencari sebatang kayu untuk menulis nama, melihat sebuah gua kecil terbuat dari batu karang yang berukuran besar.
            “ Woy, kemari, coba kalian lihat!” tunjuk Cika.
            Aku dan Kiki berlari kecil menuju arahnya, kami mengambil gambar lagi di dalam gua kecil itu, guanya hangat dan gelap. Sesudah itu aku dan kiki merasa lelah, kami berdua duduk di dalam gua sebentar, sementara Cika pergi entah kemana, menikmati pemandangan indah di pantai tanpa nama.
            Tidak sampai lima menit kemudian, saat aku dan Kiki sedang asyik berbincang, Cika berlari ke arah kami.
            “ Awas ada orang gila!” teriaknya, wajah Cika terlihat pucat, dia hanya berhenti sesaat untuk memberi tahu kami bahwa ada seorang pria yang terlihat menyeramkan, setelah itu Cika lari terbirit-birit, mengambil tas merahnya yang tergeletak di pasir kemudian berlari menuju mobil.
            Aku dan Kiki saling pandang tidak mengerti, kami rasa hanya kami lah penghuni pantai itu, ternyata kami salah. Tak lama sosok pria yang Cika maksud muncul, pria yang memakai celana panjang hitam yang sobek tanpa memakai baju itu berjalan cepat ke arah kami, langkahnya yang lunglai dan wajahnya yang tertutupi rambut gimbal panjang semakin dekat ke arah kami, aku dan Kiki seketika panik, kami lari sekuat tenaga menuju arah Cika. Pria itu berteriak, aku menoleh ke belakang, pria tadi memegang sebatang kayu berukuran cukup besar dan melemparnya ke arah kami. Beruntung, lemparannya melesat, kami masuk ke dalam mobil dan pergi jauh-jauh dari pantai aneh itu.
            Bukannya ketakutan, kami bertiga tertawa terbahak-bahak dalam mobil, Cika menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk tertawa. Setelah tawa kami selesai, kami sadar,  tempat Cika memarkir mobilnya mempunyai pemandangan yang begitu indah.
            “ Tadi kenapa bapak-bapak itu? Gila?” tanya kiki polos.
            “ Jelas lah dia gila, Ki. Hampir lho kita kena sama kayu yang dia lempar”
            “ Eh liat deh, bagus sekali pemandangannya” kata Cika menyela.
            Kami berada di sebuah tebing, jalanan yang berliku terlihat jelas di belakang kami, pepohonan hijau menghiasi pinggir jalanan yang sepi, ketika berada di bibir tebing, kami bisa melihat pemandangan pantai yang luar biasa indahnya berada beberapa meter di bawah kami, terlihat pula para wisatawan yang sedang berselancar, bermainbanana boat bahkan terlihat beberapa wisatawan wanita yang sedang berjemur. Kami betiga duduk dan menikmati saat indah itu, tak lupa kami mengabadikannya. Pukul lima sore, kami sepakat menuju kota Senggigi untuk berburu ta’jil.
            “ Ayo, kita ke kota Senggigi, di sana banyak ta’jil enak-enak, terus kita sholat magrib di musola habis itu kita buka puasa di cafe Alberto pinggir pantai” usul Cika bersemangat.
Kami bertiga pun melanjutkan perjalanan menuju kota Senggigi yang ramai. Terbayang sudah apa yang kita ingin beli, saat ini aku sangat ingin memakan laklak, jajanan manis khas  Bali, bentuk dan rasanya mirip serabi, tetapi ukurannya yang lebih kecil dan cara membuatnya yang lebih tradisional menjadikan laklak  terasa lebih lezat dibandingkan serabi.
            Sayang sekali, rencana makan malam di pinggir pantai ditemani suara deburan ombak yang menyegarkan harus pupus. Kami terjebak macet yang sangat parah. Salah satu pohon yang berukuran besar baru saja tumbang, terlihat para warga sekitar bergotong royong untuk mengangkut pohon yang teramat besar itu. Maklumlah, dua hari belakangan ini Lombok diguyur hujan lebat dan angin kencang, jadi tak heran kalau ada pohon tumbang. Pukul enam sore, pohon tersebut belum dapat disingkirkan, kami mulai resah, sebentar lagi adzan magrib akn berkumandang.
            “ Bagaimana ini, Cik? Kok lama banget ya?” keluh Kiki.
            “ Iya, gawat kalau sampai magrib belum bisa lewat, mana aku nggak bawa air mineral buat batalin puasa”
            Ketakutan kami terbukti, adzan magrib sudah berkumandang, tetapi warga belum berhasil menyingkirkan pohon tersebut. Tenggorokan kami sudah terasa sangat kering, suara kami pun sudah mulai serak. Maklum, kami terlalu lelah karena peristiwa di pantai siang tadi.  Tapi, semua ada hikmahnya, mata kami tetap segar karena sekarang kami menyaksikan pemandangan alam yang luar biasa indahnya, saat matahari jingga berjalan mundur ke arah barat, saat warna keemasan yang menghiasi langit itu perlahan menghilang dibalik birunya air laut.
            Saat kami terpukau menyaksikan pemandangan itu, seseorang mengetuk jendela kaca mobil Cika. Seorang wanita berumur lima puluh tahunan tersenyum ramah memperlihatkan barisan giginya yang berwarna merah akibat sirih yang selalu dikunyahnya. Wanita itu menawarkan kami teh hangat yang hanya dibungkus oleh pelastik bening. Dengan senang hati kami menerima kebaikan dari warga sekitar yang masih memikirkan orang lain yang belum bisa berbuka puasa.
            “ Terima kasih ya, Ibu” kata kami kepada wanita yang menyodorkan tiga buah kantung pelastik bening berisikan teh tawar hangat. Ibu itu tersenyum dan berbalik pergi mengetuk jendela mobil lain dan membagikan kantung-kantung teh tersebut.
            “ Alhamdulillah” kata kami bersamaan.
            “ Baik banget ya ibu itu. Bener-bener peduli sesama di bulan yang penuh berkah ini” gumamku.
            Lima belas menit setelah adzan magrib berkumandang, barulah pohon tersebut bisa disingkirkan, tetapi kami masih harus menunggu agar mobil-mobil di depan kami melebarkan jarak.
            Setelah jarak antara mobil mulai normal dan bisa melaju lebih cepat, kami merasa sangat lega. Akhirnya, selama berjam-jam terjebak macet di tempat yang sama sekali tidak terduga akan mengalami kemacetan, kami berkendara ke arah kota Senggigi.
            Heran, kota Senggigi terlihat sepi, pedagang-pedagang yang menjual berbagai macam tajil juga sudah tidak terlihat. Kami hendak berhenti di cafe Alberto untuk berbuka, tetapi kami mengurungkan niat karena melihat begitu ramainya cafe oleh para wisatawan asing.
            “ Cika, kan acara kita sudah berantakan, aku malas lama-lama di daerah sini. Lihat cafe itu, sangat ramai, pasti pelayanannya lamaaa.” gumam Kiki.
            “ Aku juga, nggak sanggup kalau mau nunggu lagi.”
            “ Bagaimana kalau kita makannya di Mataram aja” usulku.
            “ Iya deh, kita makan di Mataram aja ya” jawab Cika setuju.
            Setelah beberapa menit perjalanan menuju kota ibadah yang unik ini, kami memutuskan makan di jalan Udayana. Sepanjang jalan Udayana masih menjual berbagai macam jajanan; kolak, cendol, bubur sum-sum, bubur mutiara, bubur kelapa, roti bakar dan berbagai macam makanan untuk berbuka; mie ayam ceker, satai bulayak, pelecing, nasi goreng, ayam taliwang, nasi puyung.
            Kami memutuskan untuk makan malam di lesehan Idola. Pemandangan di jalan Udayana ini indah hanya diterangi beberapa lampu kuning, aku sangat menyukai daerah ini, daerah ini terlihat begitu ceria dihiasi pemuda-pemudi yang melakukan berbagai aktivitas. Terlihat di ujung jalan, sebuah bangunan kokoh berdiri, itulah sekolahku tercinta.
            Sebelum memesan makanan, kami beranjak menuju musola kecil ditengah taman bermain anak-anak, beruntung waktu magrib belum usai. Setelah sholat kami memakan ta’jil, aku membeli jajan laklak, Cika membeli kolak labu sedangkan Kiki membeli es pisang hijau. Tidak lama setelah kami menghabiskan ta’jil kami, datanglah seorang pria yang membawakan menu pesanan kami. Seporsi satay bulayak untukku, seporsi paha ayam taliwang dan nasi putih hangat untuk Cika serta seporsi nasi puyung untuk Kiki.
            “ Selamat makan”
            Kami bertiga menyantap lahap panganan kami, sesekali aku mencicipi lauk nasi puyung milik kiki. Nasi puyung sangatlah pedas, tetapi rasa pedas dan asinnya membuat siapa saja yang memakannya ingin memakan nasi puyung lagi dan lagi.
            Itulah perjalanan kami berburu tajil, rencana awal yang begitu fantastis harus kandas akibat sebuah peristiwa yang tidak terduga, tidak masalah buatku, selama persahabatan yang kami jalin bersama ini tetap hangat, kami akan selalu mensyukurinya. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi siapa saja yang membaca cerpen ini.
 P.S: Cerita ini sebagian hanya fiktif belaka. Cerpen ini berhasil mendapat juara ke 13 di http://www.masterfajar.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s