Hideous Gaze

Forest Hills, Queens, New York City..

Seorang wanita berusia dua puluh lima tahun sedang mengeratkan mantelnya yang berwarna putih. Ia sedang duduk di bangku nomor dua dari pintu masuk cafe darkees, secangkir kopi hangat dia tempelkan di pipi kanannya agar sedikit terasa hangat. Di tangan kirinya, dia sibuk menerawang di sebuah ipad miliknya. Sorot matanya yang bulat tampak serius, kerutan matanya semakin menegang setelah ia berhasil menemukan informasi yang dia ingin tahu. Tiba-tiba seorang pria bertubuh kurus yang tingginya sekitar 180 cm duduk di depannya, cengiran nakal pria itu berhasil membuat si gadis berpaling dari buku catatannya. Terdengar jelas dialek New York atau  New Yorkese di suara cowok itu yang sedikit berat.
            “Sedang apa kau?” tanyanya ramah dengan bahasa Inggris. Si gadis cantik keturunan Indo bernama Yasmine ini hanya diam dan tersenyum menatap Ronald, pacarnya.
            “ Nope.. aku cuma mencari apa itu Bloody Marry?”
            “ Hah? You sure? For what?”
            “ I don’t know either.. tadi siang ada nenek-nenek datang berbelanja di tokoku, bicaranya aneh sekali. Dia banyak menyebut kata Marry.. Nama nenek itu Lorice, dari panti jompo yang lokasinya cuma satu blok dari apartemenku”
            “ Amm..Itu nggak penting, paling dia hilang ingatan atau sedikit gila?”
            “ Yeah” desah Yasmin. Gadis berambut hitam ini tetap saja nggak bisa lupain tatapan menyeramkan si nenek tadi. Tatapan galak yang sepertinya siap membunuh siapa saja di hadapannya.
            “Hey what’s up!” sapa Larry, teman sekamar Ron di apartemen mereka yang terletak hanya satu blok dari cafetempat mereka hang out. Di samping Larry, wanita berambut pirang, Jane ikutan nimbrung sambil membawa secangkirtequilla.
            “ You both look so serious” imbuh Jane.
            “Kita berdua cuma ngobrolin tentang Bloddy Marry”
            “ Wuuuuu… Creepy! Kenapa ngobrol tentang itu? Kalian berdua mau jadi anak kecil lagi? Mau coba ritualnya?” lanjut Jane dengan mata yang disipitkan.
            “ Ritual? Maksut kalian?” tanya Yasmine bingung, maklum Yasmine belum tahu banyak tentang segala sesuatu tentang New York. Dia sendiri bukan asli warga NYC, Yasmine mendapat beasiswa S2 di University Of Haven di Forest Hills ini. Dan dia baru tinggal di NYC selama satu setengah tahun.
            “ So, seperti kebanyakan film dan dongeng tentang Bloody Marry, yang mengisahkan tentang hantu wanita yang terjebak di kaca, haha.. jadi that goil katanya mati di depan kaca, dibunuh sama pacarnya. Hantunya terjebak gitu dalam cermin.. itu sih kisah di Amerika. Kalau di Inggris, Bloddy Marry, seorang Ratu yang membakar 100 warganya termasuk pemuka agama yang nggak mau memeluk agama Chatolic..” jelas Jane panjang lebar.
            “ Kamu bisa kok ketemu tuh cewek kalo mau, cukup pergi ke kamar mandi, nyalakan air dari bak mandi, matikan lampu dan berjalan membentuk lingkaran sambil nyebut namanya tiga kali. Lihat deh apa yang terjadi di cermin kamar mandimu” tambah Larry bersemangat.
            “ Wo wo wo! EnoughStop making my goil freaking out like that” sambung Ron.
            Yasmin nampak sedikit pucat, dia mengacak rambut hitamnya sesaat, entah apa yang ada didalam pikiran Yasmine setelah mendengar cerita itu. Namun, sifat Yasmine yang penakut sama sekali terbaca oleh kekasihnya, Ron.
            “ Kamu takut ya? You look so pale! Hahaha” ledek Jane yang ditanggapi dengan sedikit anggukan dari Yasmine yang benar-benar menanggapi cerita mereka.
*
            Esok siang, setelah Yasmine pulang kuliah, ia segera berangkat kerja di sebuah super market yang letaknya persis di depan gedung apartemennya. Yasmine bekerja sebagai penjaga kasir dengan gaji dua dolar perjamnya. Seorang anak berusia tujuh tahun berambut pirang kecoklatan dan bermata biru tua menyodorkan empat bungkus permen lorice pada Yasmine, tatapan Yasmine pada anak itu sedikit galak karena dalam berkomunikasi dengan orang asing di NYC janganlah bersikap ramah dan sopan, karena itu bisa membuat orang membentak kita. Sangat berbeda dengan budaya Yasmine di Indonesia.
            Disamping gadis cilik itu, Yasmine melihat seorang wanita seumurannya membawa sebuah keranjang besar berisi buah-buahan. Wajah wanita itu tertutupi keranjang, rambut wanita yang pirang itu mengingatkan pada seseorang, setelah akhirnya keranjannya ditaruh diatas meja kasir, tatapan wanita itu bertemu dengan Yasmine.
            “ Jane!” sapa Yasmine.
            “ Hey! Hello.. So, kamu kerja disini, huh?”
            “ I do… siapa gadis kecil itu?”
            “ That’s my sister.. Ohya, nanti malam orang tuaku akan pergi menginap di Manhattan dua hari. Kamu, Ron, Larry menginap di rumahku ya! Aku nggak bisa pergi kemana-mana, adikku harus aku jaga”
            “ Okay.. no problem.. I’ll be there
            Setelah Jane dan adiknya lenyap dibalik pintu supermarket, Yasmine yang masih tersenyum membalas senyuman Jane yang menghilang dibalik taxi berwana kuning, seorang nenek yang berambut putih sebahu tiba-tiba datang menggenggam tangan kanan Yasmine. Nenek yang kemarin, tubuh nenek berkulit keriput, lembek,dan putih terasa dingin menyentuh kulit Yasmine.
            “ Ada apa, Madam?” tanya Yasmine ragu.
            “ Don’t go anywhere tonight” bisiknya pelan. Entah darimana nenek ini datang, Yasmine sama sekali nggak melihat nenek ini melintas depan pintu supermarket. Tapi, tiba-tiba nenek aneh ini berada di hadapannya, memegang tangannya.
            “Why?
            “ Jangan kemakan omongan gadis pirang itu” lanjut sang nenek
            “ Maksudnya?”
            “ I gotta go. Tapi ingat, don’t you ever make a call with her, even once” nenek misterius itu berjalan perlahan menuju pintu supermarket, ternyata perawat dari panti jomponya sedang menunggu diluar pintu supermarket. Nenek itu pergi sambil tetap menatap Yasmine sinis, nenek itu mengarahkan jari telunjuk kanannya ke arah Yasmine. Yasmine semakin bingung, dan merasa takut. Ada apa nanti malam? Call?.
*
            Pukul sebelas malam, Yasmine, Ron, Larry, dan Jane masih terjaga di ruang keluarga rumah Jane. Rumahnya terlihat sedikit berantakan, namun hangat oleh penghangat ruangan. Bungkus snack dan kaleng soft drink berserakan di sofa. Kartu remi, remote control, tv, psp menemani malam mereka, sampai sebuah ide gila muncul begitu saja di benak Larry.
            “ Hey.. bagaimana kalau kita buktikan dongeng Bloody Marry?”
            “ No!” tolak Yasmine sedikit kasar.
            “ Why? Kamu takut yaaa.. itu kan cuma dongeng buat anak umur lima tahun” goda Larry nakal.
            “ Stop it!” tegas Ron yang tak tega melihat Larry menggoda Yasmine terus.
            Tiba-tiba lampu ruangan rumah itu mati, semua tampak gelap. Yasmine berdiri hendak memeluk Ron karena ia merasa takut saat gelap. Ron berhasil meraih tangan Yasmine yang sedikit gemetar. Yasmine terkejut bukan main saat ia melihat bayangan seorang wanita, wanita itu memakai gaun merah panjang, ditangannya memegang sebuah lilin. Yasmine tak begitu bisa melihat wajahnya, yang jelas tampak noda darah di leher wanita itu. Wanita itu juga membawa sebuah pisau, rambut coklatnya menari-nari mengikuti gerak tubuhnya yang menuruni tangga.
            “ Yasmine” desis wanita itu.
            “ AAAAAA” spontan Yasmine berteriak sekeras-kerasnya saking takutnya.
            Tiba-tiba pula lampu ruangan kembali menyala diikuti suara tawa yang begitu keras dari Larry, wanita yang ditangga itu ternyata Jane yang memakai dress milik ibunya dan memakai wig. Darah di lehernya hanya noda saos untuk menakut-nakuti Yasmine yang sudah nampak begitu pucat dan kusut.
            “ It’s not funny!”teriak Yasmine.
            Yasmine lantas berlari keluar dari rumah Jane, ia merasa sangat mudah dibodohi oleh teman-temannya yang sangat usil. Ron tentu saja mengejar Yasmine, Ron hendak menyusul Yasmine ketika Larry mencegahnya. Yasmine berlari kencang menuju apartemennya yang sempit. Tak peduli tentang mereka, Yasmin masuk ke dalam kamarnya yang nyaman dan bersembunyi dibalik selimutnya yang hangat.
            Disamping itu, di rumah Jane, Ron terlihat amat murka pada kedua teman baiknya ini. Larry dan Jane beberapa kali meminta maaf dan berjanji besok pagi-pagi sekali mereka akan menemui Yasmine dan meminta maaf.
            “ She is a believer! Sudah aku katakan sebelumnya, jangan pernah takut-takutin dia! Dia percaya dengan hal-hal begituan” protes Ron.
            “ But.. aku pikir dia tak semudah itu percaya! Sudah setua itu masih percaya dongeng buat anak kecil?” bela Larry.
            “ Dia beda! Dia percaya!”
            “ Tapi aku nggak” sambung Jane.
            “ Okay! Mari kita buktiin ke Yasmine kalo dongeng cengeng itu hanya bualaan! Cuma buat nakut-nakutin anak nakal!” tantang Larry dengan tatapan dingin pada Ron.
            “ Ayo!” tegas Jane sama dinginnya.
            Ron terduduk di sofa pasrah, sebenarnya ia sama takutnya dengan Yasmine. Mungkin karena ia terlalu menyayangi Yasmine sehingga perasaan takut akan hantu yang selalu ada di hati Yasmine menular ke dirinya. Disisi lain, Larry dan Jane ingin membuktikan pada Ron dan Yasmine kalau mereka berdua cuma kelewat takut.
            Mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi, menutup mintu kamar mandi dan menyalakan air dalam bak. Dua buah lilin sudah berada dalam genggaman masing-masing. Mereka berdua memejamkan mata dan berjalan membentuk lingkaran tujuh kali sambil menyebut nama Bloody Marry sebanyak tiga kali.
            Sudah. Mereka membuka mata, tak ada yang terjadi. Cermin itu tampak kosong, mereka berdua tertawa lepas dan menyalakan lampu kamar mandi. Selesai Larry dan Jane tertawa, mereka heran bukan main mendengar seseorang sepertinya ikut tertawa bersama mereka. Suara tawa itu semakin keras dan melengking, tapi tiba-tiba tawa itu berubah menjadi sebuah nyanyian. Bulu tangan dan leher Larry dan juga Jane terasa naik sendirinya, perasaan dingin hinggap di tubuh mereka. Larry mencoba memutar gangang pintu kamar mandi yang terkunci, perasaan tak ada diantara mereka berdua yang mengunci kamar mandi.
            Larry dan Jane memukul-mukul pintu kamar mandi dengan keras, berharap Ron mendengar suara mereka dan membantu mereka untuk keluar. Jane menoleh sesaat ke arah cermin dan melihat sesosok wanita bergaun merah dipenuhi dengan darah disekujur tubuhnya sedang menatap mereka seram. Rambutnya panjang berwarna coklat gelap nyaris hitam, dia tertawa dan Larry juga Jane merasakan tubuhnya dicakar habis oleh Marry.
            Esoknya, Larry tersadar di rumah sakit tak jauh dari apartemennya, kepalanya terasa berat dan tubuhnya penuh luka. Dia masih tak percaya apa yang tadi malam ia lihat, ia dan Jane baru saja membuktikan kalau bualan Yasmine dan nenek yang ditemui Yasmine itu benar adanya. Ron tadi malam berusaha untuk mengeluarkan mereka berdua dari dalam kamar mandi tapi tak bisa. Yasmin sedang duduk di depan kamar perawatan Jane sambil menangis di bahu Ron.
            Jane, koma. Tapi para dokter tidak menemukan luka dalam yang serius pada tubuh Jane. Jane terlihat begitu pucat dengan berbagai macam alat dipasang di tubuhnya. Yasmin bangkit dari tempat duduknya dan berlari keluar rumah sakit, diikuti Ron yang menyusulnya.
            “ Kamu ke rumah Jane, temui adiknya. Jangan biarin dia sendiri” ucap Yasmine.
            “ Kamu mau kemana?”
            “ Aku mau nemui nenek itu” jawab Yasmine singkat kemudian mengambil langkah panjang segera menghilang dari pandangan Ron.
            Sekitar dua puluh menit berjalan kaki, Yasmin tiba di sebuah panti jompo dekat apartemennya dan juga dekat supermarket tempatnya bekerja. Yasmin mengetuk pelan pintu panti yang terlihat unik itu. Seorang wanita berumur empat puluhan membukakan pintu dan mempersilahkan Yasmin masuk. Setelah Yasmine mengatakan ciri-ciri wanita itu, dan juga nama wanita itu, Yasmine mengikuti wanita itu menuju sebuah kamar di lantai dua.
            “ Apa benar dia?” tanya wanita itu, yang dibalas Yasmine dengan anggukan ringan.
            “ Dia adalah nenek yang paling pendiam disini, Lorice… dia dulu adalah seorang gypsy. Dua hari yang lalu adalah pertama kalinya dia berbicara dan ingin diantarkan ke supermarket tempatmu bekerja, katanya dia menangkap banyangan yang buruk mengenaimu.”
            “ Apa dia masih mempunyai keluarga?”
            “ Tidak. Anaknya meninggal sekitar dua puluh tahun yang lalu. Aku dengar anaknya meninggal saat mereka menantang maut. Banyak anak muda yang nggak percaya dongeng dan ingin membuktikannya. Nyawa anak itu tak bisa diselamatkan setelah ditemukan di lantai kamar mandi dengan penuh luka. Saat itu, Lorice sedang berada di gereja untuk sebuah misi. Dia menangkap bayangan anaknya dalam bahaya, tapi anaknya tak mau diperingatkan sebelumnya. Lorice sampai sekarang hidup dalam penyesalan yang mendalam karena membiarkan itu semua terjadi”
            Yasmine lega setelah mendengar penjelasan barusan, setelah dapat informasi mengenai nenek itu, ia juga merasa bersyukur karena nggak ikutan main-main dengan Marry. Yasmin berjalan keluar dari panti. Kulit Yasmin yang halus serasa begitu kedinginan saat angin musim gugur ia rasakan. Pandangan mata Yasmine berhenti pada seorang pria berambut coklat dan bertubuh jangkuk sedang duduk di teras apartemen Yasmine. Pria itu terlihat sedikit gemetar, Yasmine sadar pria itu Ron.
            “ Ron?” panggil Yasmine pelan. Ron menatap Yasmine sesaat, mata Ron yang berukuran sedang tampak sedikit merah, matanya sembab, lingkaran hitam melingkar halus dibawah matanya.
            “ Yasmine.. aku baru saja dari rumah Jane, adiknya sudah aku antar ke rumah sakit. Kamu tahu apa yang barusan aku dengar?”
            “ Apa?” tanya Yasmine.
            “ Orang tua Jane mengalami kecelakaan di Manhattan, di jam yang sama Jane tak sadarkan diri” bisik Ron pelan. Yasmine kaget bukan main mendengar kabar barusan.
            “ Terus bagaimana keadaan Jane?”
            “ Dia masih koma, dan Larry masih dirawat, dia baik-baik saja, berbeda dengan Jane yang koma.. padahal otaknya masih berfungsi dan nggak ada luka serius” tambah Ron.
            Yasmine dan juga Ron segera pergi ke rumah sakit lagi untuk menemui Larry dan Jane. Saat Yasmine mengunjungi Larry, ia merasa lega melihat temannya ini sudah baikkan. Begitu mereka mengobrol, Ron tiba-tiba masuk ke dalam kamar Larry dengan tatapan kosong, Ron terjatuh dan butiran air mata keluar dari matanya.
            “ Jane meninggal” ucapnya lirih.
            “ APA?” teriak Larry dan Yasmine bersamaan.
            Inilah mereka, di pemakaman Jane. Sebuah TPU yang bernama St. Laorence Feuz. Yasmine dan Ron memakai set pakaian hitam, Yasmine menangis dipelukan Ron. Tak menyangka teman baiknya akan meninggal teragis seperti ini. Meninggalnya Jane bukan hanya teragis, namun tak masuk akal. Dokter bilang tak ada luka serius, otaknya pun masih berfungsi. Namun, tak lama Jane koma, dokter sudah menyatakan kalau Jane sudah meninggal. Orang tua Jane pun meninggal. Mengapa hanya Jane? Padahal Larry ikutan main.
            Beberapa hari setelah kematian Jane, orang-orang yang tinggal di sekitar kuburan itu merasa gelisah. Pasalnya, ia sering mendengar suara wanita bernyanyi di atas makam. Mereka merasa orang yang berada dalam kuburan itu masih hidup dan berkeliaran di malam hari.
            Suatu malam, Larry yang tertidur pulas di rumah sakit terbangun karena mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke kamarnya. Suaranya amat berisik, mata Larry terbelalak lebar setelah melihat siapa tamu yang datang. Yang datang ke kamar Larry malam itu adalah Jane.
            “ Jane?” tanya Larry heran, Jane pacarnya itu kan sudah meninggal.
            “ Mereka menguburku hidup-hidup” desah Jane.
            “ Jadi kamu masih hidup?”
            “ As long as you here
            Jane mendekat pada Larry, Larry hanya bisa menatap wajah Jane yang pucat dan berantakan. Melihat wajah kekasihnya yang diberitakan sudah meninggal. Jane mendekat, kedua tangannya yang putih dan sedingin es batu mendekap leher Larry.
            “ Jane, kamu mau apa?”
            “ I just wanna be with you” jawab Jane pelan.
            Dekapan tangan Jane semakin kencang, Jane mencekik leher Larry kuat. Larry merasakan tenggorokannya sesak, hidungnya buntu, dadanya sesak. Ia tak bisa merasakan aliran  sejuk udara masuk lagi ke dalam hidungnya. Larry pun tak bisa merasakan lagi detak jantungnya. Larry meninggal malam itu juga.
            “Don’t make a call to her again, even once” bisik Yasmine pada pemakaman Larry. Larry dimakamkan tepat disebelah makam Jane. Dokter tak bisa menyangka penyebab kematian Larry, tak ada yang tahu mengapa Larry bisa tiba-tiba mati begitu saja. Makam Jane pun terlihat rapi, tidak ada perubahan sedikit pun.Imagery
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s