ARTEMIS

Artemis, sebuah negeri yang terletak di atas langit. Negeri ini sangatlah indah dengan segala jenis bunga yang ada; mulai dari bunga mawar, lavender, bunga matahari sampai lilac tumbuh subur di halaman kerajaan.
Tetapi, ada secercah kebahagiaan yang hilang di negeri ini. Seluruh penduduk di Artemis berjenis kelamin laki-laki. Konon, semua wanita di negeri ini meninggal karena terserang sebuah penyakit yang dibawa oleh seorang tabib dari negeri Yahud yang ingin membunuh semua saingannya untuk merebut hati sang Raja termasuk membunuh Ratu Sadira, istri dari Raja Gastha yang amat cantik.
            Artemis dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Gastha yang memiliki dua orang putra bernama Jenderal Hassya dan Pangeran Hafestus. Suatu hari, Raja mengumpulkan rakyatnya di padang rumput ilalang untuk sebuah pengumuman.
            “ Rakyatku! Hari ini saya akan mengumumkan pertunangan putraku, Hassya dengan seorang gadis dari negeri Eriel”
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi lambaian tangan Hassya yang tersenyum sambil menggandeng mesra seorang wanita yang cantik jelita.
Tepuk tangan yang bergemuruh tadi seketika lenyap. Suasana menjadi hening , sepertinya mereka semua telah terpesona setelah melihat sosok seorang gadis cantik bermata tegas, dengan rambut kecoklatannya yang bergelombang melambai lembut bagai sutra, serta kulitnya yang putih mulus membuatnya terlihat sempurna.
Seluruh rakyat terperangah dan terpesona, apalagi bagi mereka yang belum pernah sama sekali
melihat sosok wanita seperti halnya Hafestus, pria yang paling tampan. Bukan hanya di negeri Artemis ini, tapi di seluruh penjuru langit. Mulai detik ini, Hafestus telah jatuh cinta pada Antya, si putri dari negeri Eriel.
Beberapa hari setelah pertunangan pangeran dan putri, mendadak Hassya mendapat kabar kalau tabib yang membunuh ibunya ada di negeri Yahud. Tanpa berfikir panjang, Hassya segera menuju negeri itu untuk membunuh sang tabib jahat.
Hafestus yang hanya ingin bersahabat dengan Antya, ia pun hanya ingin melindungi Antya demi kakaknya yang harus pergi mendadak ke negeri Yahud untuk membunuh tabib yang telah membunuh Ibunda mereka.
Hafestus bertemu dengan Antya di taman lavender, pandangan mereka bertemu sesaaat. Antya tertegun, ia tidak bisa menolak ketika hatinya terpesona dengan wajah rupawan Hafestus. Hati Antya berdebar sangat kencang, kemudian ia hanya bisa tertunduk dan melanjutkan lukisannya. Hafestus memperhatikan lukisan Antya, ia heran karena Antya melukis setangkai bunga matahari di kebun lavender.
“ Putri menyukai bunga matahari?”
hening..
“ Aku Hafestus, adik Hassya” lanjut Hafestus tenang. Antya menatap sekilas sosok Hafestus yang berbadan tegap.
“ Dulu, ibuku selalu memberikan setangkai bunga matahari saat ulang tahunku. Dan ulang tahunku yang ketujuh adalah bunga terakhir yang ia berikan.”
“Sebaiknya putri ikut denganku…”
Putri Antya langsung saja beranjak dan mengikuti langkah Hafestus, betapa terkejutnya Antya menatap hamparan kebun matahari yang sangat luas. Bunga-bunga matahari bermekaran dengan hangatnya matahari menerangi kebun indah itu.
Antya berlari kecil memetik setangkai dan langsung tertunduk sambil menangis haru, semua kenangan tentang ibunya melintas di benak Antya. Hafestus tersentuh melihatnya, ia langsung membenamkan tubuh Antya ke dalam pelukannya.
Arth, salah satu prajurit kerajaan yang sangat terpesona oleh kecantikan Antya dengan tidak sengaja menangkap kemesraan mereka, ia merasa sangat cemburu. Tumbuh niat jahat di hati Arth untuk menyingkirkan Hafestus selama-lamanya dari kerajaan.
 Arth melaksanakan niat jahatnya pada saat makan malam,ia menyelinap masuk ke dalam dapur kerjaan dan mencampurkan ramuan ke dalam gelas Antya dan Hafestus. Hafestus dan Antya meneguk habis minumannya begitu saja, mereka pun terlelap.
Begitu terkejutnya Antya saat terbangun, ia melihat tubuhnya hanya berselimut kain tebal tanpa busana, ia lebih terkejut lagi saat melihat Hafestus terlelap disampingnya hanya berselimut kain juga. Belum sempat Antya menyelamatkan diri, pintu kamarnya didobrak oleh Arth.
“ Lihatlah kelakuan mereka, paduka!”. Hafestus terbangun, ia sangat terkejut melihat Ayahnya berdiri murka dihadapannya. Ayah Hafestus langsung menamparnya dengan sangat keras.
“ Ayah… hamba tidak mengerti apa yang telah terjadi, ini bukan seperti yang ayah lihat”
“ DIAM KAMU !!! Ayah tidak percaya semua kata-katamu! Kamu telah membuat ayah malu! Kamu telah mengkhianati kakakmu sendiri, HAFESTUS !”
“ Dengarkan dulu penjelasan hamba, ayah…”
“ TIDAK! Antya !! Kembalilah ke negerimu, sementara Hassya pulang dan memutuskan hukuman buatmu, dan kamu Hafestus! Ikut ayah ke pengadilan kerajaan”
Dua orang pengawal mengikuti langkah Raja menuju ruang persidangan sambil memegang lengan tangan Hafestus yang berjalan lemas. Hafestus merasa sangat bingung atas apa yang menimpa dirinya saat ini.
Ketika tiba di ruang persidangan, Raja Gastha duduk hening sesaat untuk memutuskan hukuman kepada Haffestus.
“ Ayah tahu, kalau selama ini kamu tidak pernah melihat sosok wanita, tapi tidak seharusnya kau melakukan ini semua, Haffestus! Kamu sudah mencoreng nama baik keluargamu sendiri.”
“ Oleh karena itu, sebagai hukuman, kamu akan ayah turunkan ke bumi. Disana kamu akan menjalankan hukuman dari ayah, sekaligus kamu akan belajar banyak hal. Kamu pun akan melihat banyak sekali wanita-wanita bumi yang harus kamu waspadai. Tapi, kamu akan menjelma sebagai seekor kelinci dan jika ada seorang wanita yang rela mengorbankan nyawanya demi kamu, maka kamu akan menjelma kembali sebagai manusia.
“ Tapi ayah..” Haffestus hendak meminta keringanan hukuman dan pembelaannya, ketika Raja melanjutkan kata-katanya.
“ Ingat satu lagi Haffestus, kamu adalah pria paling tampan di Negeri Artemis bahkan di seluruh penjuru langit. Ketika kau menjelma sebagai manusia di bumi nanti, kau akan menjadi pria tertampan di bumi, pesan ayah adalah agar kamu bisa belajar tentang kehidupan lebih dalam”
            Pangeran Hafestus turun ke bumi sebagai seekor kelinci putih dengan matanya yang merah menyala. Takut, gelisah, sedih, menyesal yang dirasakan Haffestus. Ia nggak tahu dimana dirinya saat ini. Bayang-bayangan para manusia lalu lalang, suara mesin mobil bergemuruh kencang, rintikan-rintikan hujan yang membasahi bulu halus Haffestus.
            Sampai seorang gadis remaja berumur 18 tahun dengan payung hijau di tangan kanannya, duduk sambil berusaha menggendong Haffestus di tangan kirinya, Berlian atau Lian nama gadis itu. Gadis yang akan merawat kelinci putih alias Haffestus, sang pangeran langit.
Advertisements

13 thoughts on “ARTEMIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s